Selasa, 06 Maret 2012

Program Rumah Kumuh Jadi Isu SPS

Sejumlah Pemuda yang tergabung dalam kelompok Serikat Pemuda Simpasai atau disingkat SPS (SPS) kemarin hari Senin (5/3/2012) melakukan aksi dan berorasi dari Jalan Depan Apotik Ilham Farma menuju Kantor Lurah Simpasai Kecamatan Woja. Dalam orasinya korlap aksi membacakan tuntutan masa yaitu ternyata mereka memprotes atau mempersoalkan tentang pendataan rumah-rumah warga miskin atau diistilahkan rumah kumuh yang tidak layak huni yang akan mendapatkan bantuan perbaikan dan renovasi. Program ini merupakan salah satu program pemerintah Propinsi (BAPPEDA NTB) yang melalui Bappeda Kabupaten Dompu. Total ada 4.000 rumah kumuh yang ditargetkan untuk diselesaikan di seluruh kabupaten/kota di NTB.
Menghadapi para  demonstran diaula kelurahan Kepala Kelurahan Simpasai (Jubaidah) langsung menjawab berbagai tuntutan yang disampaikan. Karena tuntutan sudah disampaikan melalui surat sebelumnya Jubaidah langsung merujuk pada surat tersebut.
Jubaidahpun menjawab sesuai dengan tuntutan, sebagai pejabat kelurahan pihaknya tidak akan menutup-nutupi apa yang tengah terjadi dan sedang dihadapi. Persoalan rumah kumuh menurutnya harus disyukuri karena ada 300 KK di Kelurahan simpasai yang berhak mendapatkanya. Persoalan tidak disosialisasikan dengan menyeluruh itu karena persoalan waktu saja, karena pihak Bappeda dan Litbang Kabupaten Dompu hanya memberikan waktu selama tiga hari untuk memasukan laporan sejak diumumkan. ”Jadi kami bekerja buru-buru untuk memberikan laporan,” tandasnya.
Tetapi laporanpun tidak begitu saja di atas kertas tetapi kami bekerjasama dengan kepala lingkungan dan RT yang ditugaskan untuk melakukan pendataan secara obyektif terhadap KK calon penerima. 300 KK yang dibutuhkan ternyata melampaui bahkan menjadi 616 KK, karena telah didata maka kelurahan menagakomodir dan akan memprioritaskan bagi yang benar-benar membutuhkan, sisanya akan diperjuangkan pada tahun selanjutnya.
Begitu juga dengan pungutan, Jubaidah mengakui mengenakan biaya sebesar itu, uang tersebut untuk keperluan mereka juga untuk mengurus administrasi, proposal dan pas foto. Dan yang menyerahkan hanya sebahagian kecil saja, itupun tidak total Rp 25 ribu, berapa saja.
Celoteh ibu kepala kelurahan sampai berjam-jam lamanya, sementara sejumlah massa aksi hanya melongo mendengarkan. Diakhir cerita Jubaidah meminta kepada adik-adiknya yang berdemo untuk membantu memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk bekerja. Karena apa yang dilakukanya adalah untuk kepentingan seluruh masyarakat yang ada.
Jubaidah juga mengaku pihaknya berhasil membuat sejumlah program masuk kekelurahan, tahun 2011 saja program yang masuk mencapai Rp 4 miliyar, dan ditahun ini dia berkomitmen untuk semakin meningkatkanya. ”Bantu saya dengan memberikan ketenangan untuk bekerja, setelah itu saya rayu dinas instansi untuk memasukan programnya pada kelurahan kita,” pintanya.
Puas berceloteh, Jubaidah pun memberikan kesempatan pada warga, tetapi karena sudah terlalu capek mendengar dan sudah lengkap dijawab duluan, massa akhirnya bubar dengan tertib.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Web Hosting | Top Web Host