Rabu, 21 April 2010

Berbeda Memberi Warna

Setiap kita adalah berbeda. Kita dilahirkan dalam ketidaksamaan; ketidaksamaan pola pikir, karakter, sikap, warna kulit, bentuk wajah, dan tentu pilihan hidup masing-masing kita pun berbeda.

Berbeda bukanlah sesuatu yang asing untuk didengar, tetapi sesuatu yang hadirnya ketika kita lahir dibumi ini. Sesuatu yang ada sebagai tanda kehebatan dan kekuasaan sang Pencipta kita sekalian.

Berbeda bukan pintu jalan yang pada akhirnya kita menjadikannya sebagai akar dari pertikaian, konflik, atau pun perpecahan yang lebih besar, tetapi berbeda seharunya menjadikan kita lebih dewasa dalam memaknai hidup, dewasa dalam mengatur pola fikir, dan dewasa dalam bersikap, karena dengan perbedaan ini sebenarnya memperkaya kita dalam melihat model manusia yang kita hadapi, dan model manusia yang bisa kita
jadikan sebagai teman dalam bergaul maupun bekerja.

Bisa kita bayangkan ketika ada orang yang terlalu sempit menyikapi berbedaan, maka jika ada satu hal yang sedikit berbeda saja dengan pandangan dan sikap dia, maka akan melahirkan satu konflik dan perpecahan.

Nah, tentu kita tidak ingin seperti itu. Kedewasaan menyikapi setiap realita hidup ini yang bisa membuat kita lebih bertahan dan lebih cepat meraih kesuksesan.
Dalam realita yang sesungguhnya, ada banyak orang yang jelas sangat berbeda dengan pola pikir, pemahaman, nilai yang dijunjung tinggi, prinsip, dan lain-lain. Sehingga selain itu kita harus memiliki sikap menghargai terhadap hal-hal yang menurut orang lain itu penting, jika demikian dalam praktek hubungan bermasyarakat kita tidak perlu membuat diri kita menghabiskan waktu berharga hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak penting yang dilakukan orang lain.

Hargailah setiap apa yang dibentuk orang lain sebagai nilai bagi dirinya. Jangan pernah memaksakan pandangan kita untuk dilakukan dan dijadikan sebagai nilai bagi orang lain.

Berbeda itu indah, dia merupakan sinergi yang bisa memberi warna dalam hidup. Bisa membuat kesombongan luruh, memahami kesejatian hidup, menepis segala bentuk rasa prasangka untuk lebih toleran terhadap sesama. Apalagi dengan aneka bahasa verbal dan non verbal yang mendukung terciptanya kolaborasi warna pelangi. Coba bayangkan jika pelangi itu satu warna, indah tidak?
Semoga kedewasaan kita menyikapi berbedaan hidup akan memberi satu warna indah bagii setiap proses hidup yang kita alami.*Noval Palandi*

Minggu, 18 April 2010

Pencerdasan Politik*

Politik, Berbicara tentang politik, hari ini sudah bukan hanya menjadi konsumsi para elit politik saja, atau para pejabat tinggi yang bersentuhan langsung dengan para lakon politik saja. Tetapi tema-tema politik sudah merakyat dikalangan masyarakat Dompu.

Pembicaraan politik yang dimaksud adalah pembicaraan tentang fenomena politik kekinian. Fenomena politik yang sekarang mendarah daging dengan masyarakat Dompu di segala strata sosial disebabkan karena semakin hari para praktisi politik menjalankan tuntunan skenario yang mereka peroleh untuk memenangkan salah satu calon yang mereka usung dengan terjun langsung dan melakukan pendekataran intensif kepada orang-orang yang menurut mereka berpeluang untuk memilih dan bergabung menjadi tim sukses.

Pesta demokrasi yang mengejar posisi menjadi orang nomor 1 dan nomor 2 di Kabupaten Dompu ini menjadi berita dan bahan obrolan terhangat yang bisa ditemukan dimana-mana disekitar daerah Dompu, dari kantor Pemerintahan Daerah, Dinas-dinas, Lembaga swasta, tempat bertani, sampai pada tempat-tempat nongkrong masyarakat kecil.

Ini fenomena yang menarik untuk diperhatikan dan dikaji. Klo kita ingat dengan masa orde baru, kita akan mengatakan bahwa ini adalah budaya yang sangat berbeda, dimana ketika itu jangankan masyarakat kecil yang mencari penghidupan lewat bertani, Pegawai Negeri Sipil yang notabene berlatar belakang pendidikan tinggi saja seolah dibunuh karakternya, dan diintimidasi hak-hak politiknya. Fenomena yang berbeda dan positif dibandingkan dengan masa Soeharto inilah yang barangkali bisa kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan pencerdesan politik.

Berbicara pencerdasan politik ini akan menyentuh wilayah yang lebih luas dari sekedar berbicara dan membahas fenomena lima tahunan ini. Pencerdasan politik lebih pada bagaimana masyarakat bisa terbuka wawasannya, memahami esensi dari pesta demokrasi ini, dan menggunakan hati nurani dan kecerdasan mereka untuk melihat dan menelaah siapa yang pantas untuk menjadi Pemimpin mereka selama lima tahun kedepan.

Apalagi ketika mencoba membuka kembali catatan-catatan pemilu legislatif kemarin yang kemudian diakhir ceritanya meninggalkan stigma buruk bahwa pesta demokrasi seperti itu (Pemilu Legislatif) akan hanya dimenangkan oleh orang-orang yang berduit, orang-orang yang mampu memuaskan kebutuhan sesaat beberapa kelompok masyarakat, dan calon-calon yang mampu membeli suara rakyat dengan jumlah yang lumayan tinggi saja.

Jika direfleksikan, nurani ini akan bertanya “kemanakah orang-orang yang memiliki mentalitas politik yang maju dan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat dengan modal kapasitas dan kapabilitas diri yang lebih baik. Mungkin mereka ada tetapi jumlahnya tidak banyak sehingga suara mereka hilang ditelan oleh model system kita yang memaksa setiap orang yang berpartisipasi dalam pesta ini untuk mengerahkan setiap materi yang dimilikinya demi mencapai tujuan ini.
Nah, melalui pengalaman yang dialami masyarakat dan kejadian-kejadian yang pernah dilihat dan dihukumi sebagai salah satu hal yang tidak mencerdaskan masyarakat dalam konteks politik seharusny menjadi hal yang dipegang teguh oleh masyarakat. Dan melalui PEMILUKADA ini masyarakat menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan pencerdasan politik.

Pencerdasan politik bisa dilakukan oleh siapapun yang merasa diri peka terhadap kondisi masyarakat saat ini. Bagaimana kemudian momen-momen seperti ini dijadikan sebagai kesempatan mereka untuk bisa cerdas melihat siapa calon pemimpin bagi mereka. Selain itu masyarakat bisa meningkatkan wawasannya dalam berbagai hal terutama wawasan tentang politik, kemudian memahami esensi dari pesta demokrasi ini dengan menghadiri sosialisasi yang biasanya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga terkait sehingga pemahaman masyarakat akan terasah dan lambat laun akan memahami esensi PEMILUKADA serta mereka akan mengambil bagian yang bisa diperankan oleh mereka sesuai dengan kemampuannya, dan sehingga partisipasinya akan bisa dirasakan oleh mereka dan sebagai konsekwensi logis adalah keterlibatan hati nurani dan kecerdasan mereka dalam melihat dan menelaah siapa yang pantas menjadi Bupati dan Wakil Bupati selama lima tahun kedepan yang tentunya akan memperjuang dan mengadvokasi hak-hak rakyat serta membawa Kabupaten Dompu menjadi lebih baik.

*Noval Palandi

 
Free Web Hosting | Top Web Host