Jumat, 21 Mei 2010

KPU Dompu Gelar Bintek Pemungutan Suara PemiluKada

Ncuhi Riwo –
Komisi pemilihan umum (KPU) Dompu kemarin menggelar bimbingan tehnis pemungutan penghitungan dan rekapitulasi suara bagi PPK dan PPS pemilu Bupati dan Wakil Bupati Dompu tahun 2010 untuk wilayah Kecamatan Kempo dan Kecamatan Pekat di Aula Gedung PKK.
Bintek dihadiri puluhan peserta dari seluruh anggota PPK dan PPS se Kecamatan Kempo dan Kecamatan Pekat. Turut hadir maman SH, divisi hukum KPU dan Sri Rahmawati, SE divisi logistic KPU Dompu.
Acara Bintek dibuka oleh Maman, SH selaku divisi Hukum KPU Kab Dompu.
Dalam sambutannya Maman mengatakan, acara dilakukan dalam rangka penyelenggarakan Pemilu Kada 2010 7 Juni 2010. Untuk menyukseskan Pemilu Kada 2010, dengan harapan pelaksanaan Pemilu kada 2010 dapat berjalan aman, lancar, dan tertib. “Selaku penyelenggara pemilu, kita di harapkan dapat memegang asas-asas hukum, serta kode etik yang ada, karena segala sesuatunya nanti di selesaikan dengan perarturan hukum yang berlaku. ”kata Maman.
Kepada anggota PPK dan PPS, Maman meminta, untuk tetap menjaga netralitas dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dapat memahami segala aturan tentang penyelenggaraan Pemilu kada. “Segala peraturan harus di pahami, dan kalau bisa untuk di baca, serta di pelajari, “Ingat Maman.
Selain itu, kata Maman, PPK dan PPS harus bisa menempatkan diri dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan ihklas tanpa paksaan. Oleh karena itu, segala pekerjaan yang akan kita lakukan secara ikhlas maka segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.
Sementara Sri Rahmawati, SE divisi logistic KPU Dompu, dalam pemaparanya, mengatakan, Bintek bertujuan untuk menyamakan presepsi visi dan misi dalam penyelenggaraan Pemilu Kada Bupati dan Wakil Bupati Dompu. “Bila diantara kita belum ada yang memahami dan mengerti, maka kita dapat belajar bersama-sama. “Tandas Rahma.
Bintek yang diselenggarakan KPU ini, tidak hanya berlangsung di gedung PKK tapi juga berlangsung di Gedung Sarana Kegiatan Belajar-SKB Dompu. Bintek tersebut, pesertanya anggota PPK dan PPS untuk Kecamatan Woja dan Kecamatan Kilo. Bintek di buka langsung oleh Ketua KPU Dompu, Erfan Taufan, SE dan Ir. Rusdianto divisi penyelenggara pemilu KPU Kab Dompu. (aip/poer)

DPRD Dompu, Gelar Rapat Paripurna Penyampaian Visi Misi Calon Bupati/Wakil Bupati Dompu

Ncuhi riwo -
Sidang paripurna Dewan Kabupaten Dompu, dalam penyampaian visi misi calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu tahun 2010-2015, Jum’at (21/5) kemarin digelar di ruang rapat utama gedung DPRD Dompu. Dari ke 7 pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang akan berlaga dalam pemilukada Dompu 7 Juni mendatang, hanya saja dalam penyampaian visi – misi tersebut salah satu calon Bupati nomor urut 2 Edi Hermansyah SH berhalangan hadir karena sakit dan hanya di wakili oleh calon Wakil yakni Bupati Badrun Anggrat.
Rapat paripurna penyampaian visi misi calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu, dihadiri ratusan pendukung masing-masing pasangan calon serta Pimpinan Partai pengusung. Hadir juga, sejumlah muspida, Sekda Dompu, Drs. H. Zainal Arifin Hir, Kepala Kantor, Dinas dan Badan di Lingkup Pemda Dompu serta anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara pemilu dan Ketua Panwas Dompu. Rapat paripurna dipimpin oleh Wakil Ketua DPRD Kab. Dompu, Drs H. Hidayat Ali.
Wakil Ketua DPRD Dompu Drs H Hidayat Ali, dalam sambutan singkatnya membacakan tatib agenda rapat paripurna penyampaian visi misi calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu periode 2010-201. Dikatakan, penyampaian Visi dan Misi oleh para pasangan tersebut di batasi, masing-masing calon Bupati dan Wakil Bupati diberi waktu menyampaikan visi dan misinya sekitar 20 menit dan disampaikan secara bergilir sesuai nomor urut yang di tetapkan KPU.
Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu yang mendapat giliran pertama menyampaikan visi misinya, yakni, H. Syaifurrahman Salman, SE dengan Drs. H. Gaziamansyuri, MAP. Visi pasangan ini, yakni, menginginkan Dompu yang maju melalui peningkatan sumber daya manusia dan pengembangan agribisnis dalam lingkungan masyarakat yang berbudaya, sejahtera dan religious. Sementara misinya, diantaranya, peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan mutu kehidupan social budaya,peningkatan supremasi hukum dan pengembangan kehidupan politik di daerah, peningkatan kualitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
Adapun visi misi pasangan nomor urut 2 Eddy Hermansyah, SH dan Badrun Anggrat, diantaranya, visi dalam rangka pembangunan daerah Dompu adalah menuju Dompu Bahagia, Tujuan tersebut terwujud melalui proses pembelajaran dalam arti las dan berkesinambungan, artinya tidak hanya terwujud pendidikan formal oleh peserta didik dalam usia sekolah, melainkan di laksankan oleh segenap masyarakat agar kehidupan hari ini lebih baik dengan kemarin dan hari esok lebih baik dengan hari ini.
Sementara Misinya, yakni, masyarakat dalam memperoleh informasi yang bermanfaat untuk menumbuhkan kreatifitas dalam menanggapi peluang yang berkaitan dengan peningkatan taraf hidup, dan kesejahteraan masyarakat. Menyertakan warga masyarakat (membangun partisipasi aktif) dalam mekanisme pengambilan kebijakan dan pelaksanaannya terutama program yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sementara pasangan nomor urut 3 Drs. H. Bambang M. Yasin dan Ir. H. Syamsudin, MM, dalam penyampaian Visinya, terwujudnya masyarakat Dompu yang mandiri dan religious. Misinya Menumbuhkan ekonomi berbasis sumber daya local, dan mengembangkan investasi dengan mengedepankan prinsip pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku usaha. Mengembangkan masyarakat yang religious, berahlak mulia, berbudaya, menghormati sesame Meningkatkan pelayanan pendididkan dan kesehatan gratis yang berkeadilan, terjangkau, dan berkualitas Melakukan percepatan pembangunan infrastruktur daerah dan strategis.
Pasangan nomor urut 4 Ir. H. Eddy Wahyudin, MBA, dengan Drs. Diaul Anhar H. Anas Visinya, Terwujudnya kehidupan masyarakat Dompu yang tinggi derajatnya, makmur, dan berakhlakul karimah. misinya Membangun bersama organisasi social, politik, dan birokrasi yang kuat menuju pemerintahan yang bersih dan berwibawa Membangun bersama maasyarakat Dompu yang mandiri membangun bersama prestasi masyarakat Dompu. Membangun bersama semangat ukhuwah / persaudaraan dalam masyarakat, sebagai modal dasar terciptanya suasana kehidupan yang nyaman, tertib, indah, kompak, dan aman.
Sementara pasangan nomor 5 Drs. H. M. Amin, MM dengan H. Didi Wahyudi, SE, visinya. Terwujudnya masyarakat Dompu yang maju, mandiri, dan religious dengan di nafasi semangat “Mbolo Weki”. Rumusan tersebut mengandung makna Maju, Mandiri, dan Religius. Misinya Meningkatkan kemampuan dan keadilan ekonomi Mengembangkan pendididkan dan tehnologi yang bermutu dan berorientasi pasar Peningkatan derajat kesehatan masyarakat Mengembangkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan public. Meningkatkan upaya penegakkan hukum dan Kamtibnas. Meningkatkan pengelolaan dan pelestarian SDA dan lingkungan.
Pasangan nomor urut 6 H. Syamsuddin MK dengan H. Sanusi H. Hamzah, S.Sos, Visinya, Terwujudnya pemerintahan yang bersih, adil, dan bertanggungjawab dalam mengemban dan mengelola sumber daya manusia, sumber daya ekonomi, dan sumber daya alam yang dilandasi semangat Nggahi Rawi Pahu menuju terciptanya masyarakat Dompu yang mandiri, sejahtera dan religious.Misinya, Meningkatkan kesejahteraan masyarakat lahir dan batin, mandiri, dalam suasana aman dan damai. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, berdaya saing, inovatif berdasarkan iman dan taqwa Mengoptimalkan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan Meningkatkan pelayanan public dan aparatur yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Menegakan supremasi hukum dan hak asasi manusia.Meningkatkan pertumbuhan wilayah dan pemerataan pembangunan Kota dan Desa.
Sementara pasangan terakhir yang menyampaikan visi misnya, yakni nomor 7 Pasangan Arifin Ibrahim, SE dengan Drs. M. Nurdin AR, Visinya, membangun masyarakat Dompu yang jujur, cerdas, maju, mandiri, berkepribadian, sejahtera, cinta tanah air, bernuasa religious, dinafasi semangat Nggahi Rawi Pahu.Misinya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar mampu bersaing dalam kompetisi dengan membangun lembaga pendidikan yang bermutu, terjangkau, dan berkepribadian. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan pelestarian lingkungan hidup, membangun ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki dan membuka peluang investasi,Memperluas kesempatan berusaha dan membuka lapangan kerja.Penegakan hukum dan HAM, memantapkan system politk yang demokratis menciptakan keamanan yang kondusif, mempercepat reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi.
Paripurna dengan agenda penyampaian visi misi calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu berakhir pukul 12.00 Wita, sempat terjadi interupsi yang dilakukan anggota Dewan Kurnia Ramadhan SE, terkait Tanya jawab dan dialog dalam agenda penyampaian visi misi tersebut. Namun, permintaan tersebut ditolak oleh pimpinan sidang. (pur/rif)

Senin, 03 Mei 2010

MERINDUKAN SEMANGAT KI HADJAR DEWANTARA

Siapa yang tidak kenal sosok tokoh pendidikan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Diakhir-akhir bulan april dan menyambut Mei, namanya sering disebut, karena tanggal kelahirannya yaitu 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan sebagai hari Pendidikan Nasional, tidak hanya itu pada 28 November 1959 melalui surat keputusan Presiden RI no. 305 Tahun 1959, Ki Hadjar ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Tokoh yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat merupakan peletak dasar pendidikan nasional. Sekilas melihat latar belakangnya, Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Pendidikan dasarnya diperoleh di Sekolah Dasar dan setelah lulus ia meneruskan ke Stovia di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar antara lain Sedya Tama, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Ia tergolong penulis tangguh pada masanya; tulisan-tulisannya sangat tegar dan patriotik serta mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.

Selain menjadi seorang wartawan muda RM Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik, ini terbukti di tahun 1908 dia aktif di Boedi Oetama dan mendapat tugas yang cukup menantang baginya yaitu di seksi propaganda.

Dalam seksi propaganda ini dia aktif untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya kesatuan dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara Setelah itu pada tanggal 25 Desember 1912 dia mendirikan Indische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka, organisasi ini didirikan bersama dengan dr. Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo. Organisasi ini berusaha didaftarkan status badan hukumnya pada pemerintah kolonial Belanda tetapi ditolak pada tanggal 11 Maret 1913, , dikeluarkan oleh Gubernur Jendral Idenburg sebagai wakil pemerintah Belanda di negara jajahan. Alasan penolakkannya adalah karena organisasi ini dianggap oleh penjajah saat itu dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan bergerak dalam sebuah kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda!.

Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.

Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin adalah kata suri tauladan. Sebagai seorang pemimpin atau komandan harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buah atau bawahannya. Banyak pimpinan saat ini yang sikap dan perilakunya kurang mencerminkan sebagai figur seorang pemimpin, sehingga tidak dapat digunakan sebagai panutan bagi anak buahnya.

Sama halnya dengan Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitkan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seorang pemimpin ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat kerja anggota bawahannya. Karena itu seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja.

Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seorang komandan atau pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.

Beliau meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Sebagai wujud melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara oleh pihak penerus perguruan Tamansiswa didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta. Dalam museum terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Uraian diatas adalah sekilas potongan sejarah perjuangan Ki Hadjar dan terlihat jelas jiwa kebangsaannya telah tertanam sejak muda. Dan jiwa kebangsaannya itu memberikan kontribusi dan dorongan kuat pada dirinya untuk melahirkan konsep-konsep pendidikan yang berwawasan kebangsaan.

Ketika Masa orde lama beliau menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Melihat jejak sejarah KI Hadjar Dewantara, beliau sangat berjasa memikirkan tentang pendidikan Indonesia. Banyak kalangan sering menyejajarkan Ki Hadjar dengan Rabindranath Tagore, seorang pemikir, pendidik, dan pujangga besar kelas dunia yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional India, karena mereka bersahabat dan memang memiliki kesamaan visi dan misi dalam perjuangannya memerdekakan bangsanya dari keterbelakangan. Tagore dan Ki Hadjar sama-sama dekat dengan rakyat, cinta kemerdekaan dan bangga atas budaya bangsanya sendiri. Tindakan Ki Hadjar itu dilatarbelakangi kecintaannya kepada rakyat.

Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak terlepas dari "strategi" untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Adapun logika berpikirnya relatif sederhana; apabila rakyat diberi pendidikan yang memadai maka wawasannya semakin luas, dengan demikian keinginan untuk merdeka jiwa dan raganya tentu akan semakin tinggi.

Kita sebagai generasi muda, selayaknya menyambut perjuangan beliau dan melanjutkan cita-citanya untuk memajukan pendidikan diIndonesia. Kalau saja KI Hadjar Dewantara mampu berfikir dan mengonsep beberapa ajaran yang akhirnya sangat dikenal oleh masyarakat yang seiring dengan itu masalah sosial-politik negara sedang belum stabil, kenapa tidak menjadi satu semangat kita untuk menatap masa depan cemerlang bagi pendidikan kita.

Melihat semakin hari realitas pendidikan kita semakin tidak “merakyat” menurut KI Hadjar Dewantara, tak selayaknya kita berdiam diri, apalagi dizaman yang “serba ada” ini, mestinya generasi muda mampu selangkah lebih maju dari tokoh-tokoh yang telah mendahuluinya seperti KI Hadjar sehingga dimasa yang akan datangpun akan mampu memperbaiki dan menyempurnakan wajah pendidikan bangsa Indonesia.
Realitas pendidikan masa kini semakin tak tentu arah, proses ikhtiar yang panjang dilakukan oleh para siswa maupun guru hanya ditentukan oleh tiga hari ujian. Ini mengundang usaha-usaha yang tidak jujur dari beberapa oknum yang ingin mengejar nama sekolah menjadi baik, terkenal pintar hanya karena jumlah siswanya yang lulus lebih sedikit dari sekolah lain, selain itu oknum yang merasa system ini tidak adil akan membuat trik khusus untuk membocorkan soal, memberi tahu jawaban, dan lainnya untuk membantu siswanya.

Dan mungkin banyak kasus lain yang jika diurai satu persatu akan menjadi satu paket system pendidikan yang hari ini sedang carut marut. Implikasi yang bisa dirasakan oleh seluruh komponen pendidikan hari ini adalah ekspresi siswa terhadap keputusan lulus ataupun tidak. Siswa-siswa yang merasa diri telah mendapatkan predikat kelulusan akan mengekspresikan kebahagiaannya sampai pada titik ekstrim kebahagiaan; konvoi motor, balapan sepeda motor, coret-coretan baju, dan lainnya. Coba kita obyektif melihat ini, tidak adakah satu ekspresi kebahagiaan yang lain yang lebih berbau pendidikan?atau symbol-simbol lain sebagai indikator keberhasilan proses pendidikan selama ini?

Dan jika mereka adalah siswa yang belum beruntung karena tidak lulus ujian, bukan proses introspeksi dari usaha yang mereka lakukan selama ini tetapi mengkambing hitam; teman benci, guru jadi sasaran, gedung sekolah dihancurkan untuk menunjukkan kekecewaan mereka. Inikah hasil dari pendidikan yang menciptakan generasi bangsa yang beradab itu.

Jika demikian, wajar ketika kita harus merindukan apa yang dulu diperjuangkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Seharusnya kita mencoba memfalsafahi kembali sebuah cita yang pernah ada pada pendidikan kita, melahirkan para tokoh dan orang-orang yang hari ini menjadi “orang” bagi bangsa dan Negara Indonesia.*Noval Palandi*

Rabu, 21 April 2010

Berbeda Memberi Warna

Setiap kita adalah berbeda. Kita dilahirkan dalam ketidaksamaan; ketidaksamaan pola pikir, karakter, sikap, warna kulit, bentuk wajah, dan tentu pilihan hidup masing-masing kita pun berbeda.

Berbeda bukanlah sesuatu yang asing untuk didengar, tetapi sesuatu yang hadirnya ketika kita lahir dibumi ini. Sesuatu yang ada sebagai tanda kehebatan dan kekuasaan sang Pencipta kita sekalian.

Berbeda bukan pintu jalan yang pada akhirnya kita menjadikannya sebagai akar dari pertikaian, konflik, atau pun perpecahan yang lebih besar, tetapi berbeda seharunya menjadikan kita lebih dewasa dalam memaknai hidup, dewasa dalam mengatur pola fikir, dan dewasa dalam bersikap, karena dengan perbedaan ini sebenarnya memperkaya kita dalam melihat model manusia yang kita hadapi, dan model manusia yang bisa kita
jadikan sebagai teman dalam bergaul maupun bekerja.

Bisa kita bayangkan ketika ada orang yang terlalu sempit menyikapi berbedaan, maka jika ada satu hal yang sedikit berbeda saja dengan pandangan dan sikap dia, maka akan melahirkan satu konflik dan perpecahan.

Nah, tentu kita tidak ingin seperti itu. Kedewasaan menyikapi setiap realita hidup ini yang bisa membuat kita lebih bertahan dan lebih cepat meraih kesuksesan.
Dalam realita yang sesungguhnya, ada banyak orang yang jelas sangat berbeda dengan pola pikir, pemahaman, nilai yang dijunjung tinggi, prinsip, dan lain-lain. Sehingga selain itu kita harus memiliki sikap menghargai terhadap hal-hal yang menurut orang lain itu penting, jika demikian dalam praktek hubungan bermasyarakat kita tidak perlu membuat diri kita menghabiskan waktu berharga hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak penting yang dilakukan orang lain.

Hargailah setiap apa yang dibentuk orang lain sebagai nilai bagi dirinya. Jangan pernah memaksakan pandangan kita untuk dilakukan dan dijadikan sebagai nilai bagi orang lain.

Berbeda itu indah, dia merupakan sinergi yang bisa memberi warna dalam hidup. Bisa membuat kesombongan luruh, memahami kesejatian hidup, menepis segala bentuk rasa prasangka untuk lebih toleran terhadap sesama. Apalagi dengan aneka bahasa verbal dan non verbal yang mendukung terciptanya kolaborasi warna pelangi. Coba bayangkan jika pelangi itu satu warna, indah tidak?
Semoga kedewasaan kita menyikapi berbedaan hidup akan memberi satu warna indah bagii setiap proses hidup yang kita alami.*Noval Palandi*

Minggu, 18 April 2010

Pencerdasan Politik*

Politik, Berbicara tentang politik, hari ini sudah bukan hanya menjadi konsumsi para elit politik saja, atau para pejabat tinggi yang bersentuhan langsung dengan para lakon politik saja. Tetapi tema-tema politik sudah merakyat dikalangan masyarakat Dompu.

Pembicaraan politik yang dimaksud adalah pembicaraan tentang fenomena politik kekinian. Fenomena politik yang sekarang mendarah daging dengan masyarakat Dompu di segala strata sosial disebabkan karena semakin hari para praktisi politik menjalankan tuntunan skenario yang mereka peroleh untuk memenangkan salah satu calon yang mereka usung dengan terjun langsung dan melakukan pendekataran intensif kepada orang-orang yang menurut mereka berpeluang untuk memilih dan bergabung menjadi tim sukses.

Pesta demokrasi yang mengejar posisi menjadi orang nomor 1 dan nomor 2 di Kabupaten Dompu ini menjadi berita dan bahan obrolan terhangat yang bisa ditemukan dimana-mana disekitar daerah Dompu, dari kantor Pemerintahan Daerah, Dinas-dinas, Lembaga swasta, tempat bertani, sampai pada tempat-tempat nongkrong masyarakat kecil.

Ini fenomena yang menarik untuk diperhatikan dan dikaji. Klo kita ingat dengan masa orde baru, kita akan mengatakan bahwa ini adalah budaya yang sangat berbeda, dimana ketika itu jangankan masyarakat kecil yang mencari penghidupan lewat bertani, Pegawai Negeri Sipil yang notabene berlatar belakang pendidikan tinggi saja seolah dibunuh karakternya, dan diintimidasi hak-hak politiknya. Fenomena yang berbeda dan positif dibandingkan dengan masa Soeharto inilah yang barangkali bisa kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan pencerdesan politik.

Berbicara pencerdasan politik ini akan menyentuh wilayah yang lebih luas dari sekedar berbicara dan membahas fenomena lima tahunan ini. Pencerdasan politik lebih pada bagaimana masyarakat bisa terbuka wawasannya, memahami esensi dari pesta demokrasi ini, dan menggunakan hati nurani dan kecerdasan mereka untuk melihat dan menelaah siapa yang pantas untuk menjadi Pemimpin mereka selama lima tahun kedepan.

Apalagi ketika mencoba membuka kembali catatan-catatan pemilu legislatif kemarin yang kemudian diakhir ceritanya meninggalkan stigma buruk bahwa pesta demokrasi seperti itu (Pemilu Legislatif) akan hanya dimenangkan oleh orang-orang yang berduit, orang-orang yang mampu memuaskan kebutuhan sesaat beberapa kelompok masyarakat, dan calon-calon yang mampu membeli suara rakyat dengan jumlah yang lumayan tinggi saja.

Jika direfleksikan, nurani ini akan bertanya “kemanakah orang-orang yang memiliki mentalitas politik yang maju dan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat dengan modal kapasitas dan kapabilitas diri yang lebih baik. Mungkin mereka ada tetapi jumlahnya tidak banyak sehingga suara mereka hilang ditelan oleh model system kita yang memaksa setiap orang yang berpartisipasi dalam pesta ini untuk mengerahkan setiap materi yang dimilikinya demi mencapai tujuan ini.
Nah, melalui pengalaman yang dialami masyarakat dan kejadian-kejadian yang pernah dilihat dan dihukumi sebagai salah satu hal yang tidak mencerdaskan masyarakat dalam konteks politik seharusny menjadi hal yang dipegang teguh oleh masyarakat. Dan melalui PEMILUKADA ini masyarakat menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan pencerdasan politik.

Pencerdasan politik bisa dilakukan oleh siapapun yang merasa diri peka terhadap kondisi masyarakat saat ini. Bagaimana kemudian momen-momen seperti ini dijadikan sebagai kesempatan mereka untuk bisa cerdas melihat siapa calon pemimpin bagi mereka. Selain itu masyarakat bisa meningkatkan wawasannya dalam berbagai hal terutama wawasan tentang politik, kemudian memahami esensi dari pesta demokrasi ini dengan menghadiri sosialisasi yang biasanya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga terkait sehingga pemahaman masyarakat akan terasah dan lambat laun akan memahami esensi PEMILUKADA serta mereka akan mengambil bagian yang bisa diperankan oleh mereka sesuai dengan kemampuannya, dan sehingga partisipasinya akan bisa dirasakan oleh mereka dan sebagai konsekwensi logis adalah keterlibatan hati nurani dan kecerdasan mereka dalam melihat dan menelaah siapa yang pantas menjadi Bupati dan Wakil Bupati selama lima tahun kedepan yang tentunya akan memperjuang dan mengadvokasi hak-hak rakyat serta membawa Kabupaten Dompu menjadi lebih baik.

*Noval Palandi

Minggu, 07 Maret 2010

DBD Mulai Mewabah di Dompu, Dua orang Meninggal Dunia





Kegiatan Foging yang dilakukan di Kelurahan Montabaru Kecamatan Woja minggu (07/03). kegiatan Foging baru dilakukan setelah ada yang positif DBD














Mawarni 6 tahun warga Desa Bara Kecamatan Woja Dompu yang meninggal akibat DBD jumat (05/03)








Ncuhi Riwo Dompu – Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Dompu kini mulai mewabah, dalam beberapa pekan terakhir, puluhan orang yang dinyatakan Positif menderita DBD dirawat di Rumah Sakit Umum Dompu. Sementara itu dalam dua hari terakhir dua orang penderita DBD meninggal dunia.
Kedua korban DBD yang meninggal dunia tersebut yakni Wahyuda 6 tahun warga Kelurahan Montabaru Kecamatan Woja, serta Mawarni 6 tahun warga Desa bara Kecamatan woja Dompu. Wahyuda meninggal pada hari sabtu (06/03) kemarin sekitar pukul 17.00 Wita, sementara Mawarni meninggal pada hari jumat (05/03) lalu sekitar pukul 03.30 Wita, kedua korban penderita DBD tersebut meninggal di Rumah Sakit Umum Dompu setelah mendapat perawatan pihak Rumah sakit.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat Dompu, karena selain puluhan orang yang positif DBD, sudah hampir 50 orang lainnya menderita penyakit yang mengarah ke DBD atau sudah suspek, meskipun sabagian lainya sudah dinyatakan sembuh,“dalam dua hari terakhir ini ada 6 orang yang dinyatakan positif DBD, dua orang diataranya meninggal dunia, sementara 4 orang lainya tengah mendapat perawatan intensif di Rumah sakit Umum, satu diantaranya yakni Dilan 7 tahun sekarng masih kritis, dan masih di ruangan ICU” jelas Anwar sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu.
Anwar mengatakan saat ini pihaknya sedang intens melakukan pencegahan agar nyamuk yang sangat membahayakan tersebut tidak terjangkit pada warga, mulai dari melakukan Foging serta sosialisasi pada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan maupun tempat tinggal, karena nyamuk DBD sangat rawan pada daerah – daerah yang kondisi lingkungan yang tidak sehat, “saat ini kami terus berupaya melakukan foging di daerah – daerah yang sudah terjangkit DBD, karena aturannya kita baru akan melakukan foging setelah dalam suatu daerah sudah ada yang positif DBD” jelas Anwar pada Kampung media saat melakukan Foging di Kelurahan Montabaru.
Dikatakan Anwar Foging bukanlah cara ampuh untuk terhindar dari Demam Berdarah karena memang foging hanya untuk pencegahan agar nyamuk tidak meluas, “cara yang sangat ampuh dalam mengatasi terjangkitnya DBD itu yakni dengan Abate serta 3 M plus, kalau foging ini sifatnya hanya mencegah agar tidak mewabah saja” katanya.
Labih jauh Anwar menuturkan bahwa di Kabupaten Dompu terdapat sepuluh Desa yang dinyatakan terdapat pasien positive DBD.Sejumlah Desa maupun Kelurahan yang dimaksud yakni Desa O’o, Keluarahan Dorotangga, Desa Lepadi, Kelurahan Potu, Kelurahan bada, Kelurahan Karijawa, Kelurahan Simpasai, Kelurahan kandai II, Kelurahan Montabaru serta Desa Bara.
Selain melakukan foging pihak Dikes juga akan segera mengerahkan pegawai Puskesmas di masing – masing Daeran untuk melakukan goto royong dalam hal kebersihan lingkungan, “besok mulai hari senen (08/03) akan mengerahkan pegawai puskesmas yang dibantu oleh pihak kelurahan maupun Desa untuk melakukan gotong royong kebersihan di masing – masing Desa dan Kelurahan” ujar Anwar.
Atas kejadian ini lanjut Anwar sangat diharapkan yakni partisipasi aktif masyarakat sendiri dalam hal menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, serta dihimbau agar tetap rutin melakukan 3 M plus, “jentik nyamuk DBD sangat mudah menempati tempat – tempat yang lembab serta di air yang tidak mengalir, seperti tempayan, bak mandi dan lain sebagainya” harapnya.
Ditambahkan Anwar hingga saat ini pihaknya masih belum bisa semaksimal mungkin untuk melakukan berbagai upaya untuk hal yang dimaksud, karena pihak Dikes sendiri masih terkendala anggaran, hari minggu (07/03) Dinas Kesahatan kabupaten Dompu telah melakukan Foging di Desa bara dan Kelurahan Montabaru. “meskipun saat ini kami masih terkendala masalah dana akan tetapi kami akan terus berupaya dan berusaha semaksimal mungkin agar DBD tidak meluas” katanya. *purnawansyah*

Sabtu, 06 Maret 2010

Dua Bocah Gizi Buruk di Dompu

Nurratun 7 bulan pasien Gizi buruk dalam gendongan sang nenek

Sahrir 3 tahun pasien Gizi Buruk yang dengan berat bada 5 kg dalam gendongan Neneknya














Ncuhi Riwo Dompu - Nasib malang dialami dua bocah di Dusun Serakapi Desa Saneo Kecamatan Woja Dompu, dengan kondisi tubuh yang kurus kerempeng dan perut membucit serta berat badan yang tidak ideal mengharuskan mereka tetap berada pada gendongan sang ibu, bagaimana tidak tubuh kedua anak yang menderita Gizi buruk ini sangatlah tidak bisa untuk duduk sendiri.

Sahrir 3 tahun serta Nuratun 7 bulan, kedua bocah tersebut sudah lama menderita penyakit tersebut, lantara kemiskinan yang dialami sehingga pola makan sehat tak mampu mereka lakukan, orang tua kedua penderita Gizi Buruk (marasmus) tersebut hanyalah buruh tani yang tiap harinya bekerja dari tempat yang satu ke tempat yang lain, tempat dimana mereka bisa mendapatkan upah demi keberlangsungan hidupnya.

Nuratun putri pasangan suami Istri Kibitiah dan Anwar, sudah menderita gizi buruk sejak 5 bulan terakhir, selama ini Kibitiah hanya mampu memberikan makan apa adanya pada si buah hati, karena untuk mendapatkan makanan yang sehat buat sang anak mereka tidak mampu, “selama ini hanya beri asi saja, ya kalau ada uang saya beli bubur untuk anak“ jelas Kibitiah pada kampung media.

Berat badan Nuratun sangat tidak seimbang dengan usia bayi seusianya, bayangkan saja di usianya yang sudah tujuh bulan hanya memiliki berat badan 3,8 ons. Sewaktu dilahirkan Nuratun lahir dalam keadaan normal dengan berat badan 3,5 kg, “waktu lahir berat badan anak saya itu 3,5 kilo, trus anak saya mulai sakit sejak umur dua bulan, batuk – batuk, demam, trus sesak napas, sampai sekarang ini“ ujar Ibu satu anak ini.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kibitiah beserta suaminya namun lagi – lagi karena kendala biaya, usaha mereka untuk menyembuhkan anak pertama hasil pernikahanya satu tahun silam tersebut kandas, selama ini anaknya hanya mapu diobati di puskesmas terdekat, “selama ini hanya memeriksa ke puskesmas saja, dan dipuskesmas menganjurkan untuk di rujuk kerumah sakit, tapi kami tidak punya biaya“ keluhnya seraya menambahkan jika mereka pernah diberikan bantuan oleh pihak puskesmas berupa bubur untuk sang buah hatinya.

Sementara itu yang sangat memprihatinkan lagi yakni kondisi Sahrir, selain mengalami gizi buruk Sahrir (3 tahun) juga menderita kelainan pada tubuhnya dengan kondisi Kepala yang membesar serta tulang dadanya yang membekak, kondisi tersebut telah lama dirasakan oleh Sahrir. Berat badan Sahrir sangat tidak sesuai dengan berat badan anak di usianya, sahrir dengan umurnya seperti itu hanya memiliki berat badan 5 kg saja.

Hal yang membuat hati terenyuuh bagi yang melihatnya saat para rombongan wartawan serta Dinas Kesehatan meninjau sahrir, ternyata Sahrir tengah dibawa oleh neneknya ke ladang. Pihak Dikes yang sudah ingin melihat sang anak berkat informasi dari para kuli tinta itu langsung menyusul ke tempat dimana neneknya berladang, alangkah ironisnya, sang anak tersebut berada di tengah – tengah ladang di dalam sebuah gubuk reot, hal itu terpaksa dilakukan oleh sang nenek karena dirumah tidak ada yang menjaga si anak, karena ibunya pun harus bekerja jadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sementara ayahnya sudah lama meninggalkan Sahrir bersama ibunya, “saya terpaksa membawa cucu saya kesini pak, karena ibunya sudah pergi kerja jadi buruh tani, dirumah tidak ada yang jagain, kalau bapaknya sudah pergi lari sejak anaknya masih bayi“ ungkap Ramlah, sang nenek yang sudah tiga tahun setia menemani cucunya.

Hal yang sama juga dikatakan Ramlah, ketidak mampuan dalam biaya untuk pengobatan menjadi kendala yang cukup parah dalam usaha untuk penyembuhan Sahrir, bahkan sahrir sendiri sangat jarang diperiksakan ke Puskesmas apa lagi rumah sakit Umum itu tidak pernah dilakukan. Sementara kondisi Sahrir hingga saat ini masih mengalami batuk – batuk dan sesak napas yang cukup parah, “bagaimana mau kerumah sakit kita gak punya biaya, untuk makan sehari – hari ini sudah sangat sulit, sampai ibunya saja harus bekerja tiap hari untuk kebutuhan hidup“ ujar Ramlah dengan sedih.

Untuk kesembuhan sang cucu Ramlah sangat berharap bantuan dari pemerintah setempat untuk perawatan Sahrir, karena mengingat kondisi sahrir yang sudah sangat mengkhawatirkan, “kami tidak punya biaya untuk mengobati di rumah sakit, kami orang miskin yang tidak punya biaya, tolong bantu kami“ harap Ramlah.

Terhadap kondisi kedua anak tersebut pihak Dinas Kesehatan yang langsung menjenguk pasien dirumahnya masing - masing pada Jum’at (05/03) lalu, berinisiatif untuk langsung membawa kedua anak itu ke Rumah Sakit Umum Dompu guna mendapat perawatan Intensif, “hari ini juga anak – anak harus kami dibawa ke rumah sakit, mengingat kondisi kedua anak ini sangat memprihatinkan” kata Anwar sekretaris Dikes kabupaten Dompu.

Untuk biaya perawatan kedua bocah tersebut pihak Dikes akan berupaya semaksimal mungkin, meskipun Dikes sendiri dalam hal ini hanya akan membantu dalam hal uang tunggu yakni 15 ribu perhari untuk satu orang saja, mengingat anggaran untuk penanganan pasien Gizi buruk yang belum ada, “untuk perawatan di RSUD semua gratis, kami juga akan memberikan uang tunggu sebesar 15 ribu per hari untuk satu orang, meski saat ini belum ada anggarannya tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin” jelas Anwar. Uang tunggu itu sendiri merupakan anggara Dana Alokasi Umum (DAU).

Anwar mengaku sebelumnya pihak Dikes melalui Puskesmas setempat telah memberikan pelayanan terhadap kedua anak tersebut, namun pihak keluarga yang disarankan untuk berobat kerumah sakit tidak ada yang mau dengan alas an tidak memiliki biaya, “sebelumnya terhadap kedua anak ini, kami sudah memberikan pelayanan sesuai protap yang ada” katanya, sembari mempertegas kembali bahwa pihaknya akan membawa kedua anak itu ke RSUD, ”kedua pasien ini akan kami bawa ke RSUD untuk mendapat perawatan medis, mau ndak mau orang tuanya akan kami berikan pemahaman agar supaya anaknya mau dirawat” tegas Anwar. *Purnawansyah*

 
Free Web Hosting | Top Web Host