Minggu, 19 Desember 2010

PASTE GADUNG salah satu INOVASI TEKNOLOGI UNTUK KEMANDIRIAN PANGAN


Gadung adalah sejenis umbian-umbian liar yang bisa dimakan yang terdapat banyak sekali dipegunungan yang ada di Dompu. Tumbuhan ini merupakan makanan pokok orang-orang zaman dahulu atau nenek moyang etnis Bima Dompu. Akan tetapi seiring perkembangan zaman dan teknologi beberapa umbian termasuk salah satunya adalah gadung ini tidak lagi menjadi makanan pokok dan bahkan sangat jarang orang yang mengkonsumsinya.
Tetapi beberapa tahun terakhir ini, banyak sekali program-program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah propinsi yang tidak lain tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga melalui kelompok-kelompok usaha simpan pinjam, usaha mikro, dll. Sehingga gadung kembali menjadi sumber ekonomi beberapa bagian daerah di dompu yang memiliki hutan yang mempunyai potensi gadung yang cukup banyak.
Contohnya saja Ada beberapa kegiatan yang juga dilakukan agar meningkatkan keterampilan masyarakat-masyarakat yang ada di Desa, seperti pelatihan pengolahan makanan kerupuk udang, abon ikan marlin, pengolahan rumput laut, dan juga gadung yang bisa diolah menjadi keripik, tepung, dan juga kue, yaitu salah satunya Paste Gadung.

Walaupun bahan dasarnya gadung tetapi tetap menggunakan bahan – bahan lain diantaranya :
1. Telur : 2 Biji
2. Gula : 200 Gram
3. Mentega : ¼ Kg
4. Tepung Terigu : 50 Gram
5. Tepung Maizena : 25 Gram
6. Tepung Gadung : 250 Gram
Sedangkan C A R A M E M B U A T nya yaitu :
1. Kocok margarin dan gula halus selama 2 menit, masukan telur satu persatu sambil dokocok rata.
2. Tambahkan tepung terigu, tepung maizena sambil di ayak dan di aduk rata.
3. Cetakkan diloyang yang di oles margarin
4. Oven 25 menit dengan suhu 150° sampai matang
5. Siap disajikan
Rasa gadung yang gurih, membuat cita rasa kue ini lebih enak dan bisa menjadi salah satu inovasi pangan non Beras untuk Daerah Dompu.

KETIKA KETAHANAN PANGAN TIDAK HANYA MENJADI SLOGAN.


Masalah gizi merupakan bagian dari pembangunan Nasional yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak terutama pemerintah, baik Pusat, Propinsi maupun Daerah. Upaya untuk meningkatkan gizi masyarakat tentunya sangat erat kaitannya dengan upaya untuk meningkatkan produksi dan pengadaan pangan. Sehubungan dengan hal tersebut kebijaksanaan pangan dan gizi terutama ditujukan untuk menanggulangi masalah gizi khususnya terhadap masyarakat yang sosial ekonomi lemah dan sangat peka terhadap masalah gizi.
Sebagaimana disadari bahwa penyebab belum terpenuhinya kebutuhan gizi antara lain yaitu akibat kurangnya pengetahuan, rendahnya tingkat pendidikan, besarnya anggota keluarga, adanya berbagai adat kebiasaan yang merugikan dan kurang mendukung pentingnya arti kesehatan. Hal lain yang erat kaitannya dengan penyediaan pangan dan perbaikan gizi adalah pentingnya penganekaragaman atau diversifikasi pola konsumsi makanan, kiranya hal ini perlu dimantapkan lagi pada saat ini.
Usaha diversifikasi ini merupakan usaha untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap beras sebagai satu-satunya makanan pokok. Ketergantungan yang terlalu besar kepada salah satu bahan makanan pokok seperti beras akan menjadi sumber kerawanan dalam jangka panjang suatu daerah.
Untuk memasyarakatkan diversifikasi makanan ini sehingga lebih efektif. Pemerintah melalui beberapa program di setiap Dinas/Instansi yang berkaitan dengan Ketahan Pangan Khususnya berusaha menghimbau agar kita dapat mengupayakan penganekaragaman menu setia pengadaan konsumsi pada berbagai acara, kegiatan maupun kesempatan lainnya. Dan diharapkan upaya-upaya tersebut bisa tetap diperhatikan terkait dengan mutu dan kesehatan hasil olahan maupun nilai gizinya.
Dan dalam rangka pencapaian uapya-uapaya tersebut, baru-baru ini bertempat di Pantai Lakey Dompu serangkai dengan Perayaan Festival Lakey dalam rangka penyambutan ULtah NTB Pemerintan mengadalakan kegiatan inovasi tekhnologi dalam rangka mendukung kemandirian pangan melalui lomba cipta menu makanan non beras yang diikuti oleh DWP Dinas/Instansi Sekabupaten Dompu.

Rabu, 15 Desember 2010

Pembuatan Saluran Air


Program Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang terdiri dari PNPM Mandiri
Perdesaan, PNPM Mandiri Perkotaan, serta PNPM Mandiri wilayah khusus dan desa
tertinggal. PNPM Mandiri Perdesaan adalah program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Pendekatan PNPM
Mandiri Perdesaan merupakan pengembangan dari Program Pengembangan
Kecamatan (PPK), yang selama ini dinilai berhasil. Beberapa keberhasilan PPK adalah
berupa penyediaan lapangan kerja dan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin,
efisiensi dan efektivitas kegiatan, serta berhasil menumbuhkan kebersamaan dan
partisipasi masyarakat.

Visi PNPM Mandiri Perdesaan adalah tercapainya kesejahteraan dan kemandirian
masyarakat miskin perdesaan. Kesejahteraan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar
masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilisasi sumber
daya yang ada di lingkungannya, mampu mengakses sumber daya di luar
lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah
kemiskinan.

Misi PNPM Mandiri Perdesaan adalah :
(1) peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaannya;
(2) pelembagaan sistem pembangunan partisipatif;
(3) pengefektifan fungsi dan peran pemerintahan lokal;
(4) peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat;
(5) pengembangan jaringan kemitraan dalam pembangunan.

Pemerintah Kabupaten Dompu melalui Program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) tersebut sejauh ini di Kecamatan Woja Khususnya Kelurahan Montabaru telah berhasil menjalankan berbagai program pembangunan fisik,dan sarana prasarana.

Misalnya saja di Kelurahan Montabaru, menurut informasi dari Ketua TPK Kelurahan Montabaru, kegiatan ini merupakan hasil musyawarah desa yang diadakan oleh PNPM, yaitu pembuatan saluran irigasi disetiap ruas gang-gang desa yang ada di Kelurahan Montabaru.

Pembuatan saluran irigasi ini setidaknya bertujuan untuk mengurangi resiko banjir yang terjadi dirumah warga bila musim hujan tiba..

PNPM juga tidak hanya memberikan program fisik tetapi penguatan kapasitas dan motivasi warga juga melalui pelatihan-pelatihan sehingga masyarakat dalam menjalankan program termotivasi untuk mempertahankan seluruh program yang telah terbentuk maupun terbangun, seperti pengelolaan dan pemeliharaan berbagai bangunan fisik yang tersebar di beberapa desa tersebut.

PKH (Program Keluarga Harapan)


Program keluarga Harapan (PKH) merupakan suatu program penanggulangan kemiskinan. Dan merupakan bagian dari program-program penanggulangan kemiskinan lainnya, di bawah koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Pusat dan Daerah. Program ini dijalankan dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan kebijakan di bidang perlindungan social. Pemerintah Indonesia melalui Dinas Sosial Kabupaten khususnya Dompu sejak tahun 2007 telah melaksanakan Program ini. Program ini bukan dimaksudkan sebagai kelanjutan program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang diberikan dalam rangka membantu rumah tangga miskin mempertahankan daya belinya pada saat pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM. PKH ini lebih dimaksudkan kepada upaya membangun sistem perlindungan sosial kepada masyarakat miskin.
Dan menurut salah satu Pendamping PKH Kec. Woja (Didi Askariadin, S.Sos), Dalam PKH, bantuan akan diberikan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) dan sebagai imbalannya RTSM tersebut diwajibkan untuk menyekolahkan anaknya, melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk pemeriksaan gizi dan imunisasi balita, serta memeriksakan kandungan bagi ibu hamil. Untuk jangka pendek, bantuan ini akan membantu mengurangi beban pengeluaran RTSM, sedangkan untuk jangka panjang diharapkan akan memutus rantai kemiskinan antar generasi.

Dan sejak pelaksanaannya tahun 2007 yang lalu, Program Keluarga Harapan atau akrab disebut PKH ini sudah sangat familiar dan sering disebut oleh beberapa kalangan masyarakat di Kabupaten Dompu, khususnya Kecamatan Woja yang merupakan Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Dompu yang mendapatkan Program ini terutama masyarakat yang berasal dari keluarga atau Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Di kabupaten Dompu baru 4 Kecamatan yang mendapatkan langsung Program Keluarga Harapan ini yaitu Kecamatan Dompu, Woja, Kilo dan Pekat.

Dan untuk memudakan koordinasi, proses pendataan maupun pembagian dananya, Program PKH Pada tingkat Kabupatennya ada yang disebut UPPKH Kabupaten, di Kecamatan ada UPPKH Kecamatan dan di tingkat Lapangan ada Pendamping yang Mengkoordinir sejumlah Desa seperti tutur Bapak Didi Askaradi, S.Sos beliau menjadi Koordintor 4 Desa (Kelurahan Montabaru, Desa Matua, Desa Baka Jaya dan Desa Nowa) Kec. Woja.

Dengan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia Cabang Dompu, Tim dan Pendamping Program Keluarga Harga (PKH), kemarin (Tanggal 14 s/d 15 Desember 2010) dua hari berturut-turut melakukan pembagian dana bantuan tersebut. Terlihat sejumlah warga miskin memenuhi Aula dan Halaman Kantor Camat Woka Kabupaten Dompu untuk mengantri pembagian Dana bantuan tersebut yang biasa dilakukan pada minggu ke 2 atau ketiga setiap 3 bulannya atau 4 kali dalam kurun waktu 1 tahunnya.
.
Dan jadwal pencairan Dana PKH Untuk keseluruhannya Kabupaten Dompu serentak pada Tanggal 14 Desember 2010 (yaitu untuk Kecamatan Dompu, Kilo dan Pekat, sedangkan untuk Kec. Woja 2 hari yaitu tanggal 14 dan 15 Desember 2010. setiap hari biasanya bergiliran, Hari pertama ada sejumlah Desa dan hari berkutnya ada beberapa Desa lagi sesuai dengan jumlah Desa yang ada di setiap Kecamatannya. Dan besarnya jumlah yang diterima setiap warga adalah tergantung kondisi rumah tangga atau biasa disebut dengan istilah “struktur rumah tangga” dalam PKH ini.

Sabtu, 04 Desember 2010

“NTB BERSAING” yang Perlu di “BUKTIKAN”



Ncuhi Riwo (04/12/2010), “ Program PIJAR yang dicanangkan oleh Provinsi NTB, berangkat dari inovasi dan kreativitas pemerintah daerah yang kemudian di niatkan secara tulus adalah Program yang akan memberikan tantangan bagi masyarakat (khususnya Petani) dalam meningkatkan Produktivitas Pertanian dan peternakan, jika produktivitas meningkat maka daya beli masyarakat akan menunjukkan arah peningkatan” setidaknya kata-kata itulah yang terlontar dari Wakil Gubernur NTB dalam sambutan awal pada Dialog Publik yang digelar di Pendopo Bupati Dompu.
Program yang menitik beratkan pada Pengembangan Peternakan sapi, Pertanian jagung dan Rumput laut ini, menurut analisa dan pembacaan petinggi NTB akan secara langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini disebabkan karena sistim yang digunakan dalam pelaksanaan programnya, “Kredit Usaha rakyat akan menjadi Motivasi tambahan bagi Petani dalam meningkatkan Produktifitasnya”, tambah Wakil Gubernur. Khusus untuk Penanaman jagung, Pemprov NTB memprioritaskan Kabupaten Dompu, karena dari 10 kabupaten/Kota yang ada, hanya Kabupaten Dompu yang dinilai sangat siap dan memiliki konsep yang jelas sebagai pedoman pelaksanaan program yang dimaksud (jagung). Sebagai langkah konkrit atas Prioritasnya kabupaten Dompu dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lain, Pemprov NTB memberikan bantuan Benih jagung dengan Volume yang sangat besar pada Dompu yaitu benih yang dapat di distribusikan untuk 4500 Ha lahan.



Senada dengan hal tersebut, Bupati Dompu dengan berapi-api mengatakan bahwa Program PIJAR sangat cocok untuk diterapkan d Kabupaten Dompu karena menurut analisa Tim ahli, Strktur Tanah Dompu memiliki cukup unsur hara yang sangat cocok dengan tanaman jagung, memiliki Padang gembalaan yang cukup luas untuk peternakan Sapi dan memiliki laut yang cukup tenang untuk budidaya rumput laut. Selain itu juga, Bupati Untuk memenuhi target menanam jagung pada 10.000 Ha Lahan, Bupati Dompu menegaskan akan mengusahakan benih sebagai tambahan bantuan dari pemprov NTB.
Ketika disinggung tentang Kredit Usaha rakyat (KUR) yang nota bene merupakan pinjaman lunak dari pihak bank kepada Rakyat sebagai Modal penanaman jagung, Bupati Dompu megaskan bahwa saat ini pihaknya menjalin kerja sama dengan BRI sebagai Mitra, namun di tambahkan juga bahwa kerja sama dengan BNI diakui tidak cukup memenuhi permintaan kredit dari masyarakat sebagai akumulasi Motivasi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas jagung, oleh karenanya dalam waktu dekat Pemkab Dompu akan bekerja sama juga dengan PT Bank NTB dan Bank Syari’ah sebagai bentuk respon terhadap membludaknya motivasi masyarakat. Terkait dengan Kredit Usaha rakyat, Wakil Gubernur NTB mengatakan bahwa Pihaknya juga (Pemprov) NTB akan membentuk lembaga Penjamin Kredit rakyat yang sumber dananya berasal dari Pemprov sebesar Rp. 15 M dan seluruh kabupaten/Kota dibebankan masing-masing sebesar Rp. 1 M. “ Tidak ada alasan bagi Kabupaten/Kota untuk tidak menyumbangkan uangnya masing-masing Rp. 1 M, karena kalau tidak, maka Gubernur tidak akan mengesahkan APBD kabupaten kota yang tidak menyumbang tersebut ” tambahnya.



Selain Hiburan lagu-lagu daerah, Acara yang mengundang gelaktawa karena Abu Macel dan Selvy yang bertindak sebagai MC kerap melempar Joke-joke segar sehingga Proses Dialog ini juga bisa berjalan secara santai, Dialog Publik ini menjadi lebih semarak dengan adanya Door Prize dari PT Garuda Indonesia, Merpati Nusantara dan Jayakarta Hotel, dimana Drs. Badrul Munir (Wagub NTB), Drs.H.Bambang (Bupati Dompu) dan Bapak Komari (Dirut PT Bank NTB) diwajibkan memberikan masing-masing 1 pertanyaan yang kemudian diserahkan kepada peserta dialog yang menjawabnya. Pertanyaan Pertama dari Wagub NTB dikhususkan untuk para camat Se Kabupaten Dompu untuk menjawab, Pertanyaannya adalah berapa Jumlah keseluruhan Penduduk Dompu,,? Setalah gagal dijawab oleh Camat Manggelewa, kemudian Pertanyaan tersebut berhasil di jawab dengan baik oleh Camat Woja dan kemudian Camat Woja berhak atas Tiket Mataram-Bali-Mataram dari Garuda. Pertanyaan Kedua tentang berapa Bunga Kredit Usaha Rakyat Pada PT Bank NTB dari bapak Komari (Dirut PT bank NTB) berhasil dijawab oleh salah satu peserta perempuan dan sebagai hadiah, peserta yang berhasil tersebut berhak atas Tiket Pesawat Mataram-Surabaya-mataram dari Merpati Nusantara. Pertanyaan pamungkas dari Bupati Dompu tentang Berapa Jumlah SKPD dan Badan serta kantor pada Ruang lingkup Pemkab Dompu berhasil dijawab dengan sempurna oleh Kurnia Ramadhan (Anggota DPRD Kab.Dompu) dan beliau berhak atas Voucher menginap 1 hari di Jayakarta Hotel Senggigi.
Di pengujung acara, dilakukan launching Kopi Tambora yang kemudian di Syahkan menjadi Kopi Resmi Nusa Tenggara Barat, Prosesi Launching Kopi tambora yang diberi Nama Kopi “Lumba Sena” ini diawali dengan Pertunjukan teater oleh Seniman Senior NTB Muhammad Zaini dan Pembacaan Puisi oleh yang berjudul “Air” oleh Seniman anyar Winsa dan di akhiri dengan penandantanganan Dokumen Peresmian Kopi tambora “Lumba Sena” oleh wakil Gubernur NTB.(Ncuhi_Riwo)

Refleksi Sederhana Ulang Tahun NTB Dalam Berdzikir Untuk Dompu Menuju Dompu Berzikir

Perjalanan Nusa Tenggara Barat dari tahun ke Tahun tentunya tidaklah semulus Sebutan sebagai Bumi Gora atau segudang julukan Mulus yang di tambatkan pada Pundaknya. Dalam dekade pengembaraan NTB menuju daerah yang mandiri dan berdaya saing yang kemudian dicita-citakan menjadi salah satu Provinsi yang besar secara Kualitas di seantero negeri menjadi catatan Penting untuk bisa dicermati secara obyektif. Berdasar pada beberapa catatan bahwa NTB tidak berjalan Mulus dalam proses meraih kesejahteraan rakyat adalah dengan melihat pada catatan kelam tentang Tragedi SARA 171, Fenomena Gizi Buruk, Korupsi Legislatif, dan beberapa skandal lainnya yang semakin menciptakan image negatif bagi Propinsi yang didalamnya terdapat Pulau dengan sebutan seribu masjid. ???
Hari Ulang tahun NTB yang menetapkan kabupaten Dompu sebagai pusat perayaan sebenarnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dompu yang nota bene sebagai Kabupaten dengan jumlah Penduduk terkecil se-NTB serta sebagai kabupaten yang tidak begitu cemerlang secara IPM dibandingkan dengan Kabupaten yang lain. Beragam kegiatan digelar dalam perayaan kali ini, mulai dari yang memacu adrenalin sampai pada yang menggugah Hobby dan rohani.
Berdzikir atau mengingat Allah selalu dianjurkan bagi kaum muslimin. Berbeda dengan perintah beramal, berdzikir selalu digandengkan dengan kata katsiro atau banyak. Artinya perintah dzikir selalu dikaitkan dengan hitungan, kuantitatif, atau jumlah yang banyak. Sehingga, bisa dimengerti bahwa dzikir hendaknya dilakukan sebanyak-banyaknya. Lain halnya dengan perintah beramal atau bekerja selalu dikaitkan dengan kata sholeh, artinya benar, baik, tepat, lurus atau mungkin mengikuti istilah saat ini, adalah harus dilakukan secara profesional.
Kata yang digunakan untuk berdzikir biasanya adalah kalimat-kalimat indah atau mulia, seperti membaca subhanallah , alhamdulillah, Allahu akbar, la ilaha illallah dan sebagainya. Kalimat-kalimat itu hendaknya selalu diucapkan, diingat, dan masuk dalam kesadaran tanpa henti atau putus. Tatkala kita melihat sesuatu yang mengagumkan maka segera menyebut kata subhanallah, tatkala mendapatkan nikmat maka kemudian segera menyebut alhamdulillah. Demikian pula, tatkala melihat sesuatu yang agung dan mulia maka menyebut kalimat Allahu akbar.
Dari hal tersebut diatas, yang menjadi pertanyaan kritis adalah : Kenapa Dompu terpilih menjadi tempat berdzikir..??
(Berdasar hasil Riset) Jika dilihat dari sisi Pembangunan maka kita akan sedikit terkaget ketika mengetahui bahwa ditemukan signifikansi dimensi Partisipasi, Tranparansi, Akuntabilitas serta kesetaraan dalam proses pengangaran (Perencanaan, Pengesahan, Pelaksanaan dan Pertangung jawaban), Riset ini Memberi scala nilai 100, dengan rincian scor sebagai berikut, partisipasi hanya memperoleh Scor 50, disusul kesetaraan 55, Tranparansi 60 dan akuntabilitas mendapat scor angka 65, dilihat dari scor yang rata rata tidak ada yang mencapai angka 80 sebagai angka baik, sementara dibawah 80 dikategorikan daerah yang tidak baik atau memprihatinkan.
Anggaran yang dituangkan dalam document Perda APBD, adalah instrument strategis bagi sebuah daerah, karena memang secara filosofis anggaran merupakan bersumber dari rakyat dan untuk rakyat, dengan demikian secara filosofis anggaran yang dikelola oleh pemerintah melalui APBD dihajatkan untuk kepentingan rakyat suatu daerah, maka selayaknya rakyat melakukan intervensi dan control terhadap proses penganggaran.
Beberapa regulasipun menjamin tentang partispasi rakyat dalam Proses penganggaran, katakanlah pada aspek perencanaan terdapat UU NO 25 Tahun 2004 tentang SPN, Begitu pula dengan UU No 24 Tahun 2004 tentang pengelolaan keuangan daerah, bahkan permendagri 13 tahun 2006 yang mengatur tentang cara proses penganggaran di daerah, secara jelas menyatakan agar terjadinya proses penganggaran yang partisipatif.
Oleh karena adanya jaminan filosofis dan regulasi yang mendukung tentang keterlibatan rakyat dalam proses penganggaran, maka selayaknya rakyat mengkonsolidasikan diri untuk merespon aspek filosofis dan regulasi yang menjaminnya, disisi lain menumpuknya soal soal penganggaran sebagai pemacu dan mempertegas keterlibatan masyarakat dalam proses penganggaran, lebih lebih bagi masyarakat miskin dikabupaten Dompu.
Disisi lain, Selain pada Proses Perencanaan dan penganggaran, partisipasi aktif masyarakat sipil masih sangat kurang, kejadian serupa juga terlihat pada pembagian peran antar laki-laki dan peremupuan serta kaum muda dalam kehidupan sosial yang berlangsung ditengah masyarakat. Walaupun dalam beberapa keputusan Adat (Mahar Pernikahan) pengambilan keputusannya terlihat laki-laki (Bapak) dan Perempuan (Ibu) memiliki hak yang sama dalam menentukan mahar bagi anak perempuannya, namun disisi lain atau pada pengambilan keputusan lain masih didominasi oleh laki-laki. Seperti halnya banyak daerah di Indonesia yang masih kuat memegang dan menjalankan Budaya Patriarki, demikian juga di Dompu, Perempuan masih selalu ditempatkan pada Posisi Nomor dua pada Kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dari beberapa refleksi diatas, mungkin sudah sedikit terjawab kenapa harus berdzikir untuk Dompu (NTB pada umumnya). Berdzikir, secara normatif memiliki arti adalah mengingat Pencipta dalam upaya memohon agar dikemudian hari dihindarkan dari keburukan dan selalu dilimpahi rahmat. Maka jika kita memaknai terpilihnya Dompu sebagai tempat berdzikir (untuk Dompu) adalah untuk menghindarkan Dompu dari segala keterpurukan yang ada, atau jika menggunakan bahasa Awam adalah agar kesejahteraan menghampiri rakyat Dompu, baik dari segi Alokasi anggaran yang pro rakyat maupun pelayanan publik yang berkeadilan. Jika Berdzikir untuk Dompu hanya diartikan sebagai ratapan atas keadaan, maka tidak akan upaya perbaikan.
Kita akan menemukan makna yang berbeda jika Berdzikir untuk Dompu dimaknai sebagai upaya kebangkitan atas keterpurukan pembangunan yang selama ini berlangsung, kebangkitan ini tidak hanya menjadi kebangkitan bagi pengelola pembangunan semata, akan tetapi menjadi kebangkitan bagi seluruh Dompu dan elemen yang terkandung didalamnya, sehingga dikemudian hari tidak lagi berdzikir untuk dompu dalam rangka memohon petunjuk perbaikan, akan tetapi seperti yang dicita-citakan bersama adalah Dompu Berdzikir dalam rangka mempertahankan kebaikan yang tercipta atas daya dan upaya dari semua (elemen)..

Pembentukan KMD Baru



Kampung Media, sesuai dengan visi dan misinya bahwa pemerataan informasi dan mempercepat proses penyebaran infomasi di masyarakat khususnya ditingkat Desa/ Kelurahan merupakan tujuan utama dari terbentuknya Kampung Media pada akhir Tahun 2009 yang lalu yang merupakan Program salah satu Program Unggulan di Propinsi NTB, maka untuk meningkatkan proses itu secara meluas disetiap Kab/ Kota Di Propinsi NTB melalui DISHUBKOMINFO PROP NTB telah dibentuk lagi 2 Komunitas Kampung Media baru yaitu di Kec. Dompu dan Kec. Manggelewa Kabupaten Dompu.



Proses pembentukan sebenarnya sudah dilakukan lebih awal melalui surat pemberitahuan dan koordinasi dengan Camat masing-masing serta sudah dilakukan pelatihan yang dilalukan di Mataram beberapa hari yang lalu untuk meningkatkan kapasitas anggota KMD. Dan kemarin pada hari Jum’at 3 Desember Tahun 2010 secara resmi dilakukan pelantikan dan pembacaan ikrar oleh salah satu wakil KMD Kel. Potu Kec. Dompu yaitu “Abdul Azis”. Kegiatan ini dihadiri oleh tim dari DISHUBKOMINFO NTB, Kampung Media Ncuhi Riwo Kel. Montabaru, serta 10 orang pengurus dari Kampung Media yang baru, Kapolsek Dompu atau pejabat yang mewakili serta Camat Dompu yang dalam hal ini diwakili oleh Sekcam, dll. Dan melalui kesempatan ini sekaligus dilakukan penyerahan sertifikat pelatihan untuk wakil Kampung Media yang mengikuti pelatihan jurnalistik, lay out dan tata letak serta pelatihan dasar photografi, dan internet sehat tersebut.
Dan pada sambutannya Bapak Fairuz Abadi, SH dari Dishubkominfo Propinsi NTB mencoba menjelaskan bagaimana memanfaatkan internet tersebut untuk bisa menyebarkan informasi dan juga sebagai sarana ekonomi karena bisa mempromosikan apa saja yang ada di daerah masing-masing melalui internet karena pada setiap blog masing-masing yang dibuat oleh KMD tersedia kolom atau ruang tersebut. Dan orang yang datang dari luar daerah manapun akan mudah mengakses informasi tentang daerah kita khususnya dalam hal ini Kabupaten Dompu.
Seperti yang selalu diungkapkan oleh Bapak Fairuz Bahwa ”KMD ini adalah wadah untuk mencoba membudayakan bahasa bertutur kita bisa dituangkan kedalam sebuah tulisan”.
Dan Bapak Sekcam Dompu ikut pula menekankan bahwa ”Saya pikir tidak hanya dibudayakan tetapi lebih kepada bagaimana menumbuh kembangkan budaya tersebut”.(Nuchi_Riwo)

 
Free Web Hosting | Top Web Host