Rabu, 15 Desember 2010

PKH (Program Keluarga Harapan)


Program keluarga Harapan (PKH) merupakan suatu program penanggulangan kemiskinan. Dan merupakan bagian dari program-program penanggulangan kemiskinan lainnya, di bawah koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Pusat dan Daerah. Program ini dijalankan dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan kebijakan di bidang perlindungan social. Pemerintah Indonesia melalui Dinas Sosial Kabupaten khususnya Dompu sejak tahun 2007 telah melaksanakan Program ini. Program ini bukan dimaksudkan sebagai kelanjutan program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang diberikan dalam rangka membantu rumah tangga miskin mempertahankan daya belinya pada saat pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM. PKH ini lebih dimaksudkan kepada upaya membangun sistem perlindungan sosial kepada masyarakat miskin.
Dan menurut salah satu Pendamping PKH Kec. Woja (Didi Askariadin, S.Sos), Dalam PKH, bantuan akan diberikan kepada rumah tangga sangat miskin (RTSM) dan sebagai imbalannya RTSM tersebut diwajibkan untuk menyekolahkan anaknya, melakukan pemeriksaan kesehatan termasuk pemeriksaan gizi dan imunisasi balita, serta memeriksakan kandungan bagi ibu hamil. Untuk jangka pendek, bantuan ini akan membantu mengurangi beban pengeluaran RTSM, sedangkan untuk jangka panjang diharapkan akan memutus rantai kemiskinan antar generasi.

Dan sejak pelaksanaannya tahun 2007 yang lalu, Program Keluarga Harapan atau akrab disebut PKH ini sudah sangat familiar dan sering disebut oleh beberapa kalangan masyarakat di Kabupaten Dompu, khususnya Kecamatan Woja yang merupakan Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Dompu yang mendapatkan Program ini terutama masyarakat yang berasal dari keluarga atau Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Di kabupaten Dompu baru 4 Kecamatan yang mendapatkan langsung Program Keluarga Harapan ini yaitu Kecamatan Dompu, Woja, Kilo dan Pekat.

Dan untuk memudakan koordinasi, proses pendataan maupun pembagian dananya, Program PKH Pada tingkat Kabupatennya ada yang disebut UPPKH Kabupaten, di Kecamatan ada UPPKH Kecamatan dan di tingkat Lapangan ada Pendamping yang Mengkoordinir sejumlah Desa seperti tutur Bapak Didi Askaradi, S.Sos beliau menjadi Koordintor 4 Desa (Kelurahan Montabaru, Desa Matua, Desa Baka Jaya dan Desa Nowa) Kec. Woja.

Dengan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia Cabang Dompu, Tim dan Pendamping Program Keluarga Harga (PKH), kemarin (Tanggal 14 s/d 15 Desember 2010) dua hari berturut-turut melakukan pembagian dana bantuan tersebut. Terlihat sejumlah warga miskin memenuhi Aula dan Halaman Kantor Camat Woka Kabupaten Dompu untuk mengantri pembagian Dana bantuan tersebut yang biasa dilakukan pada minggu ke 2 atau ketiga setiap 3 bulannya atau 4 kali dalam kurun waktu 1 tahunnya.
.
Dan jadwal pencairan Dana PKH Untuk keseluruhannya Kabupaten Dompu serentak pada Tanggal 14 Desember 2010 (yaitu untuk Kecamatan Dompu, Kilo dan Pekat, sedangkan untuk Kec. Woja 2 hari yaitu tanggal 14 dan 15 Desember 2010. setiap hari biasanya bergiliran, Hari pertama ada sejumlah Desa dan hari berkutnya ada beberapa Desa lagi sesuai dengan jumlah Desa yang ada di setiap Kecamatannya. Dan besarnya jumlah yang diterima setiap warga adalah tergantung kondisi rumah tangga atau biasa disebut dengan istilah “struktur rumah tangga” dalam PKH ini.

Sabtu, 04 Desember 2010

“NTB BERSAING” yang Perlu di “BUKTIKAN”



Ncuhi Riwo (04/12/2010), “ Program PIJAR yang dicanangkan oleh Provinsi NTB, berangkat dari inovasi dan kreativitas pemerintah daerah yang kemudian di niatkan secara tulus adalah Program yang akan memberikan tantangan bagi masyarakat (khususnya Petani) dalam meningkatkan Produktivitas Pertanian dan peternakan, jika produktivitas meningkat maka daya beli masyarakat akan menunjukkan arah peningkatan” setidaknya kata-kata itulah yang terlontar dari Wakil Gubernur NTB dalam sambutan awal pada Dialog Publik yang digelar di Pendopo Bupati Dompu.
Program yang menitik beratkan pada Pengembangan Peternakan sapi, Pertanian jagung dan Rumput laut ini, menurut analisa dan pembacaan petinggi NTB akan secara langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini disebabkan karena sistim yang digunakan dalam pelaksanaan programnya, “Kredit Usaha rakyat akan menjadi Motivasi tambahan bagi Petani dalam meningkatkan Produktifitasnya”, tambah Wakil Gubernur. Khusus untuk Penanaman jagung, Pemprov NTB memprioritaskan Kabupaten Dompu, karena dari 10 kabupaten/Kota yang ada, hanya Kabupaten Dompu yang dinilai sangat siap dan memiliki konsep yang jelas sebagai pedoman pelaksanaan program yang dimaksud (jagung). Sebagai langkah konkrit atas Prioritasnya kabupaten Dompu dibandingkan dengan kabupaten/kota yang lain, Pemprov NTB memberikan bantuan Benih jagung dengan Volume yang sangat besar pada Dompu yaitu benih yang dapat di distribusikan untuk 4500 Ha lahan.



Senada dengan hal tersebut, Bupati Dompu dengan berapi-api mengatakan bahwa Program PIJAR sangat cocok untuk diterapkan d Kabupaten Dompu karena menurut analisa Tim ahli, Strktur Tanah Dompu memiliki cukup unsur hara yang sangat cocok dengan tanaman jagung, memiliki Padang gembalaan yang cukup luas untuk peternakan Sapi dan memiliki laut yang cukup tenang untuk budidaya rumput laut. Selain itu juga, Bupati Untuk memenuhi target menanam jagung pada 10.000 Ha Lahan, Bupati Dompu menegaskan akan mengusahakan benih sebagai tambahan bantuan dari pemprov NTB.
Ketika disinggung tentang Kredit Usaha rakyat (KUR) yang nota bene merupakan pinjaman lunak dari pihak bank kepada Rakyat sebagai Modal penanaman jagung, Bupati Dompu megaskan bahwa saat ini pihaknya menjalin kerja sama dengan BRI sebagai Mitra, namun di tambahkan juga bahwa kerja sama dengan BNI diakui tidak cukup memenuhi permintaan kredit dari masyarakat sebagai akumulasi Motivasi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas jagung, oleh karenanya dalam waktu dekat Pemkab Dompu akan bekerja sama juga dengan PT Bank NTB dan Bank Syari’ah sebagai bentuk respon terhadap membludaknya motivasi masyarakat. Terkait dengan Kredit Usaha rakyat, Wakil Gubernur NTB mengatakan bahwa Pihaknya juga (Pemprov) NTB akan membentuk lembaga Penjamin Kredit rakyat yang sumber dananya berasal dari Pemprov sebesar Rp. 15 M dan seluruh kabupaten/Kota dibebankan masing-masing sebesar Rp. 1 M. “ Tidak ada alasan bagi Kabupaten/Kota untuk tidak menyumbangkan uangnya masing-masing Rp. 1 M, karena kalau tidak, maka Gubernur tidak akan mengesahkan APBD kabupaten kota yang tidak menyumbang tersebut ” tambahnya.



Selain Hiburan lagu-lagu daerah, Acara yang mengundang gelaktawa karena Abu Macel dan Selvy yang bertindak sebagai MC kerap melempar Joke-joke segar sehingga Proses Dialog ini juga bisa berjalan secara santai, Dialog Publik ini menjadi lebih semarak dengan adanya Door Prize dari PT Garuda Indonesia, Merpati Nusantara dan Jayakarta Hotel, dimana Drs. Badrul Munir (Wagub NTB), Drs.H.Bambang (Bupati Dompu) dan Bapak Komari (Dirut PT Bank NTB) diwajibkan memberikan masing-masing 1 pertanyaan yang kemudian diserahkan kepada peserta dialog yang menjawabnya. Pertanyaan Pertama dari Wagub NTB dikhususkan untuk para camat Se Kabupaten Dompu untuk menjawab, Pertanyaannya adalah berapa Jumlah keseluruhan Penduduk Dompu,,? Setalah gagal dijawab oleh Camat Manggelewa, kemudian Pertanyaan tersebut berhasil di jawab dengan baik oleh Camat Woja dan kemudian Camat Woja berhak atas Tiket Mataram-Bali-Mataram dari Garuda. Pertanyaan Kedua tentang berapa Bunga Kredit Usaha Rakyat Pada PT Bank NTB dari bapak Komari (Dirut PT bank NTB) berhasil dijawab oleh salah satu peserta perempuan dan sebagai hadiah, peserta yang berhasil tersebut berhak atas Tiket Pesawat Mataram-Surabaya-mataram dari Merpati Nusantara. Pertanyaan pamungkas dari Bupati Dompu tentang Berapa Jumlah SKPD dan Badan serta kantor pada Ruang lingkup Pemkab Dompu berhasil dijawab dengan sempurna oleh Kurnia Ramadhan (Anggota DPRD Kab.Dompu) dan beliau berhak atas Voucher menginap 1 hari di Jayakarta Hotel Senggigi.
Di pengujung acara, dilakukan launching Kopi Tambora yang kemudian di Syahkan menjadi Kopi Resmi Nusa Tenggara Barat, Prosesi Launching Kopi tambora yang diberi Nama Kopi “Lumba Sena” ini diawali dengan Pertunjukan teater oleh Seniman Senior NTB Muhammad Zaini dan Pembacaan Puisi oleh yang berjudul “Air” oleh Seniman anyar Winsa dan di akhiri dengan penandantanganan Dokumen Peresmian Kopi tambora “Lumba Sena” oleh wakil Gubernur NTB.(Ncuhi_Riwo)

Refleksi Sederhana Ulang Tahun NTB Dalam Berdzikir Untuk Dompu Menuju Dompu Berzikir

Perjalanan Nusa Tenggara Barat dari tahun ke Tahun tentunya tidaklah semulus Sebutan sebagai Bumi Gora atau segudang julukan Mulus yang di tambatkan pada Pundaknya. Dalam dekade pengembaraan NTB menuju daerah yang mandiri dan berdaya saing yang kemudian dicita-citakan menjadi salah satu Provinsi yang besar secara Kualitas di seantero negeri menjadi catatan Penting untuk bisa dicermati secara obyektif. Berdasar pada beberapa catatan bahwa NTB tidak berjalan Mulus dalam proses meraih kesejahteraan rakyat adalah dengan melihat pada catatan kelam tentang Tragedi SARA 171, Fenomena Gizi Buruk, Korupsi Legislatif, dan beberapa skandal lainnya yang semakin menciptakan image negatif bagi Propinsi yang didalamnya terdapat Pulau dengan sebutan seribu masjid. ???
Hari Ulang tahun NTB yang menetapkan kabupaten Dompu sebagai pusat perayaan sebenarnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dompu yang nota bene sebagai Kabupaten dengan jumlah Penduduk terkecil se-NTB serta sebagai kabupaten yang tidak begitu cemerlang secara IPM dibandingkan dengan Kabupaten yang lain. Beragam kegiatan digelar dalam perayaan kali ini, mulai dari yang memacu adrenalin sampai pada yang menggugah Hobby dan rohani.
Berdzikir atau mengingat Allah selalu dianjurkan bagi kaum muslimin. Berbeda dengan perintah beramal, berdzikir selalu digandengkan dengan kata katsiro atau banyak. Artinya perintah dzikir selalu dikaitkan dengan hitungan, kuantitatif, atau jumlah yang banyak. Sehingga, bisa dimengerti bahwa dzikir hendaknya dilakukan sebanyak-banyaknya. Lain halnya dengan perintah beramal atau bekerja selalu dikaitkan dengan kata sholeh, artinya benar, baik, tepat, lurus atau mungkin mengikuti istilah saat ini, adalah harus dilakukan secara profesional.
Kata yang digunakan untuk berdzikir biasanya adalah kalimat-kalimat indah atau mulia, seperti membaca subhanallah , alhamdulillah, Allahu akbar, la ilaha illallah dan sebagainya. Kalimat-kalimat itu hendaknya selalu diucapkan, diingat, dan masuk dalam kesadaran tanpa henti atau putus. Tatkala kita melihat sesuatu yang mengagumkan maka segera menyebut kata subhanallah, tatkala mendapatkan nikmat maka kemudian segera menyebut alhamdulillah. Demikian pula, tatkala melihat sesuatu yang agung dan mulia maka menyebut kalimat Allahu akbar.
Dari hal tersebut diatas, yang menjadi pertanyaan kritis adalah : Kenapa Dompu terpilih menjadi tempat berdzikir..??
(Berdasar hasil Riset) Jika dilihat dari sisi Pembangunan maka kita akan sedikit terkaget ketika mengetahui bahwa ditemukan signifikansi dimensi Partisipasi, Tranparansi, Akuntabilitas serta kesetaraan dalam proses pengangaran (Perencanaan, Pengesahan, Pelaksanaan dan Pertangung jawaban), Riset ini Memberi scala nilai 100, dengan rincian scor sebagai berikut, partisipasi hanya memperoleh Scor 50, disusul kesetaraan 55, Tranparansi 60 dan akuntabilitas mendapat scor angka 65, dilihat dari scor yang rata rata tidak ada yang mencapai angka 80 sebagai angka baik, sementara dibawah 80 dikategorikan daerah yang tidak baik atau memprihatinkan.
Anggaran yang dituangkan dalam document Perda APBD, adalah instrument strategis bagi sebuah daerah, karena memang secara filosofis anggaran merupakan bersumber dari rakyat dan untuk rakyat, dengan demikian secara filosofis anggaran yang dikelola oleh pemerintah melalui APBD dihajatkan untuk kepentingan rakyat suatu daerah, maka selayaknya rakyat melakukan intervensi dan control terhadap proses penganggaran.
Beberapa regulasipun menjamin tentang partispasi rakyat dalam Proses penganggaran, katakanlah pada aspek perencanaan terdapat UU NO 25 Tahun 2004 tentang SPN, Begitu pula dengan UU No 24 Tahun 2004 tentang pengelolaan keuangan daerah, bahkan permendagri 13 tahun 2006 yang mengatur tentang cara proses penganggaran di daerah, secara jelas menyatakan agar terjadinya proses penganggaran yang partisipatif.
Oleh karena adanya jaminan filosofis dan regulasi yang mendukung tentang keterlibatan rakyat dalam proses penganggaran, maka selayaknya rakyat mengkonsolidasikan diri untuk merespon aspek filosofis dan regulasi yang menjaminnya, disisi lain menumpuknya soal soal penganggaran sebagai pemacu dan mempertegas keterlibatan masyarakat dalam proses penganggaran, lebih lebih bagi masyarakat miskin dikabupaten Dompu.
Disisi lain, Selain pada Proses Perencanaan dan penganggaran, partisipasi aktif masyarakat sipil masih sangat kurang, kejadian serupa juga terlihat pada pembagian peran antar laki-laki dan peremupuan serta kaum muda dalam kehidupan sosial yang berlangsung ditengah masyarakat. Walaupun dalam beberapa keputusan Adat (Mahar Pernikahan) pengambilan keputusannya terlihat laki-laki (Bapak) dan Perempuan (Ibu) memiliki hak yang sama dalam menentukan mahar bagi anak perempuannya, namun disisi lain atau pada pengambilan keputusan lain masih didominasi oleh laki-laki. Seperti halnya banyak daerah di Indonesia yang masih kuat memegang dan menjalankan Budaya Patriarki, demikian juga di Dompu, Perempuan masih selalu ditempatkan pada Posisi Nomor dua pada Kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dari beberapa refleksi diatas, mungkin sudah sedikit terjawab kenapa harus berdzikir untuk Dompu (NTB pada umumnya). Berdzikir, secara normatif memiliki arti adalah mengingat Pencipta dalam upaya memohon agar dikemudian hari dihindarkan dari keburukan dan selalu dilimpahi rahmat. Maka jika kita memaknai terpilihnya Dompu sebagai tempat berdzikir (untuk Dompu) adalah untuk menghindarkan Dompu dari segala keterpurukan yang ada, atau jika menggunakan bahasa Awam adalah agar kesejahteraan menghampiri rakyat Dompu, baik dari segi Alokasi anggaran yang pro rakyat maupun pelayanan publik yang berkeadilan. Jika Berdzikir untuk Dompu hanya diartikan sebagai ratapan atas keadaan, maka tidak akan upaya perbaikan.
Kita akan menemukan makna yang berbeda jika Berdzikir untuk Dompu dimaknai sebagai upaya kebangkitan atas keterpurukan pembangunan yang selama ini berlangsung, kebangkitan ini tidak hanya menjadi kebangkitan bagi pengelola pembangunan semata, akan tetapi menjadi kebangkitan bagi seluruh Dompu dan elemen yang terkandung didalamnya, sehingga dikemudian hari tidak lagi berdzikir untuk dompu dalam rangka memohon petunjuk perbaikan, akan tetapi seperti yang dicita-citakan bersama adalah Dompu Berdzikir dalam rangka mempertahankan kebaikan yang tercipta atas daya dan upaya dari semua (elemen)..

Pembentukan KMD Baru



Kampung Media, sesuai dengan visi dan misinya bahwa pemerataan informasi dan mempercepat proses penyebaran infomasi di masyarakat khususnya ditingkat Desa/ Kelurahan merupakan tujuan utama dari terbentuknya Kampung Media pada akhir Tahun 2009 yang lalu yang merupakan Program salah satu Program Unggulan di Propinsi NTB, maka untuk meningkatkan proses itu secara meluas disetiap Kab/ Kota Di Propinsi NTB melalui DISHUBKOMINFO PROP NTB telah dibentuk lagi 2 Komunitas Kampung Media baru yaitu di Kec. Dompu dan Kec. Manggelewa Kabupaten Dompu.



Proses pembentukan sebenarnya sudah dilakukan lebih awal melalui surat pemberitahuan dan koordinasi dengan Camat masing-masing serta sudah dilakukan pelatihan yang dilalukan di Mataram beberapa hari yang lalu untuk meningkatkan kapasitas anggota KMD. Dan kemarin pada hari Jum’at 3 Desember Tahun 2010 secara resmi dilakukan pelantikan dan pembacaan ikrar oleh salah satu wakil KMD Kel. Potu Kec. Dompu yaitu “Abdul Azis”. Kegiatan ini dihadiri oleh tim dari DISHUBKOMINFO NTB, Kampung Media Ncuhi Riwo Kel. Montabaru, serta 10 orang pengurus dari Kampung Media yang baru, Kapolsek Dompu atau pejabat yang mewakili serta Camat Dompu yang dalam hal ini diwakili oleh Sekcam, dll. Dan melalui kesempatan ini sekaligus dilakukan penyerahan sertifikat pelatihan untuk wakil Kampung Media yang mengikuti pelatihan jurnalistik, lay out dan tata letak serta pelatihan dasar photografi, dan internet sehat tersebut.
Dan pada sambutannya Bapak Fairuz Abadi, SH dari Dishubkominfo Propinsi NTB mencoba menjelaskan bagaimana memanfaatkan internet tersebut untuk bisa menyebarkan informasi dan juga sebagai sarana ekonomi karena bisa mempromosikan apa saja yang ada di daerah masing-masing melalui internet karena pada setiap blog masing-masing yang dibuat oleh KMD tersedia kolom atau ruang tersebut. Dan orang yang datang dari luar daerah manapun akan mudah mengakses informasi tentang daerah kita khususnya dalam hal ini Kabupaten Dompu.
Seperti yang selalu diungkapkan oleh Bapak Fairuz Bahwa ”KMD ini adalah wadah untuk mencoba membudayakan bahasa bertutur kita bisa dituangkan kedalam sebuah tulisan”.
Dan Bapak Sekcam Dompu ikut pula menekankan bahwa ”Saya pikir tidak hanya dibudayakan tetapi lebih kepada bagaimana menumbuh kembangkan budaya tersebut”.(Nuchi_Riwo)

Jumat, 26 November 2010

JUM’AT BERSIH



Dalam rangka Lomba UP2 WKSS Tingkat Propinsi NTB Tahun 2010, dan menindaklanjuti keputusan Bupati Dompu Tanggal 5 November 2010 tentang penetapan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Penanggung Jawab Kebersihan Dan Keindahan Ruas Jalan dalam kota demi menciptakan Dompu yang bersih dan indah, khususnya di wilayah Kecamatan Woja, maka melalui Camat Woja pada hari Jumat tanggal 26 November 2010 pagi tadi serentak diinstruksikan kepada semua SKPD yang ada di Lingkungan Kecamatan Woja untuk melakukan gerakan Jum’at Bersih tersebut dengan membersihkan jalan dan membakar sampah-sampah disepanjang ruas jalan Kecamatan Woja dan sekitarnya sesuai dengan pembagian wilayah masing-masing. Misalnya untuk Camat Woja dan Puskesmas Dompu Barat kebagian wilayah di Dusun Selaparang Desa Matua, Dinas Perkebunan Kabupaten Dompu kebagian mulai dari ruas jalan Kelurahan Kandai Dua tepatnya depan Kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kab. Dompu sampai dengan lampu merah di Jalan Diponegoro Kelurahan Montabaru, sedangkan untuk BKP3 Dompu kegiatannya dipusatkan di Dusun Buncu Desa Matua, dll sesuai dengan pembagian wilayah dalamKeputusan Bupati Dompu.

Pelaksanaan gotong royong tersebut selain sesuai dengan instruksi Bupati dalam menciptakan Dompu yang bersih dan indah juga dilaksanakan dalam upaya kembali membangkitkan kebiasaan bergotong royong di tengah-tengah masyarakat dan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan karena memang kebiasaan gotong royong ini merupakan tradisi yang selalu dilaksanakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, demikian juga di Kabupaten Dompu.

Minggu, 14 November 2010

GEDUNG SERBA GUNA



Gedung yang sifatnya multi fungsi akan memberi banyak manfat untuk kemashalatan masyarakat setempat yang harfiah penggunaannya dijadikan objek atau central kegiatan yang menyangkut hajat hidup dan keperluan masyarakat di sekitarnya, alhasilnya setiap kali ada kegiatan atau hajatan yang sifatnya massal atau menghadirkan banyak orang, yang punya hajatan tidak lagi repot untuk mencari daerah yang lapang atau menyewa terop dan khawatir dengan kondisi cuaca buruk yang memungkinan untuk dihadapi, semuanya itu tereleminir dengan adanya pemanfaatan gedung multi fungsi yang sifatnya universal, sifat penggunaannya berupa sarana olah raga, tempat melakukan resepsi, pertemuan, seminar, acara keagamaan ataupun kegiatan yang memungkinkan untuk menghadirkan sejumlah orang dalam kelompok yang banyak, ini sangat efektif dan efisiensi sekali untuk menghadapi banyaknya kegiatan di kalangan masyarakat mengingat kondisi riil keadaan sekarang yang tidak adanya lagi tempat – tempat yang lapang untuk di jadikan tempat kegiatan atau acara yang memungkinkan untuk terselenggaranya keramaian.
Pembangunan Gedung Serba Guna yang berlokasi di Kompleks Eks Pasar Rasanggaro Kelurahan Montabaru merupakan program rencana kerja yang tertuang pada APBD II Pemerintah Kabupaten Dompu Tahun Anggaran 2008 melalui hajat Dinas Pekerjaan Umum pada Bidang Cipta Karya dengan memanfaatkan sumber dana kegiatan dari Dana Alokasi Khusus (DAU) Tahun Anggaran Tahun Anggaran 2008 dan 2009, artinya pelaksanaan pembangunan dari Gedung Serba Guna ini dilaksanakan dengan dua tahap, yaitu tahap pertama dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2008 dengan item fisik pekerjaan meliputi galian pondasi sampai ke pengecoran kolom balok dan kesinambungan dari pekerjaan tahap pertama ini dengan dilaksanakan tahap kedua dengan Alokasi Dana Tahun Anggaran 2009 dengan mencapai fisik pekerjaan 80 % lebih dan sampai dengan sekarang ini (November 2010) belum rampung hingga fisiknya belum sepenuhnya 100 %, masyarakat di wilayah setempat juga mengharapkan adanya finalisasi dari pembagunan gedung serba guna hingga benar – benar rampung dan terselesaikan hingga sesuai dengan rencana yang akhirnya menjadi harapan dan kebanggaan bersama, oleh demikian diharapkan Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu untuk segera menuntaskan fisik dari Gedung Serba Guna ini. Kelak setelah pembangunan kelar, gedung serba guna ini akan memiliki nilai kontribusi baik sebagai pos untuk sumber pendapat asli daerah melalui retribusi dalam setiap kegiatan yang tentunya kinerja dan organisasinya perangkatnya terstruktur dengan prinsip good management.
Kehadiran gedung serba guna yang di bangun di atas areal kompleks eks pasar Rasanggaro merupakan revitalitas percepatan pembangunan untuk merespon sekaligus menjawab keinginan dan kebutuhan masyarakat Kelurahan Montabaru, Desa Matua dan daerah di sekitarnya, artinya segala bentuk kegiatan yang memerlukan wadah kegiatan terwujud pada terciptanya Gedung Serba Guna ini akan mengcover bentuk kegiatan masyarakat di sekitarnya yang mau memanfaatkan fasilitas pemerintah ini. Keberadaan Gedung Serba Guna ini mempercantik tatanan untuk Kompleks Eks Pasar Rasanggaro, bagaimana tidak karena selama ini pemanfaatannya hanya untuk tempat armada liar bagi angkutan yang tidak ada nilai kontribusinya untuk masyarakat maupun daerah, kondisi demikian tidak hanya mengganggu estetika daerah tapi sesungguhnya bentuk ekploitasi sabotase daerah yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang tidak ikut serta membantu terciptanya kondisi wilayah yang bersih dan tidak sembrawut.

kmd_ncuhi riwo

Jumat, 12 November 2010

OPTIMALISASI PELAYANAN PUBLIK MELALUI AMANDENEN HARI KERJA PEMERINTAH KABUPATEN DOMPU


Perubahan (Amandemen) hari kerja di lingkup Pemerintah Kabupaten Dompu sudah di tetapkan oleh Bupati terpilih Periode 2010 – 2015 Drs. H. Bambang M. Yasin yang terhitung mulai tanggal 1 November 2010 yang hari kerja mulai hari senen sampai dengan hari kamis, mulai pukul 07.00 WIT – 14.00 sedangkan untuk hari jum’at mulai pukul 07.30 – 11.00 WIT dan untuk hari sabtu di mulai pukul 07.00 – 13.00 WIT, sementara pakaian harian dinas (PDH) yang di kenakkan untuk hari senin adalah pakaian hansip lengkap dengan atribut embling dan logo daerah lengkap beserta dengan papan nama (begitu juga dengan hari kamis), untuk hari selasa sampai kamis berupa pakaian keki dan untuk hari jumat pakaian olah raga sedangkan hari sabtu adalah pakaian batik daerah, ini merupakan out put dari surat edaran resmi Bupati untuk setiap aparatur Pemerintah Kabupaten Dompu yang memang wajib taati dan dipatuhi untuk dilaksanakan setiap hari kerja, konotasi dari statement Bupati perubahan hari kerja ini sesuai dengan kinerja birokrasi yang beda dengan hari kerja instansi atau perusahaan swasta yang manajemennya berbeda dengan instansi pemerintah, karena sebelum surat edaran ini di defenitifkan Pemerintah Kabupaten Dompu sebelumnya menetapkan 5 (lima) hari kerja yang di mulai dengan hari senen sampai dengan hari jumat sedang hari sabtu dan minggu di tetapkan hari libur karena kebijakan 5 (lima) hari kerja ini merupakan inisiatif dari mantan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH yang di teruskan oleh mantan Bupati Dompu H. Syaifurrahman Salman, SE., M. Si.

Beberapa staff di berbagai instansi Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) mengaku lebih senang kalau di berlakukan sistem 6 (enam) hari kerja karena dianggap lebih efektif dan efesian mengingat banyak biaya (finansial) yang mesti dikeluarkan untuk dua kali pulang pergi disebabkan jam 07.00 WIT mulai masuk kerja dan jam 12.00 WIT sampai dengan jam 13.00 WIT untuk ishoma (istrahat, sholat dan makan) dan masuk kantor lagi mulai jam 13.00 sampai 16.00 WIT, namun realita dan ironisnya sungguh jarang aparatur yang masuk kembali pada waktu jam siang dibandingkan dengan jumlah pegawai keseluruhannya, ini bias diambil Dinas Pekerjaan Umum sebagai contonya ketika jam kerja pagi sungguh sangat ramai yang hadir kerja tapi setelah jam siang beberapa pegawainya dapat di hitung dengan jari tapi ini hanya berlaku untuk para staff.

Sudah beberapa hari ini yang terhitung mulai tanggal 1 November 2010 aparatur Pemerintah mulai menerapkan 6 (enam) hari kerja dengan harapan mendapat energi dan spirit baru sehingga dapat bekerja secara optimal dan maksimal dengan penuh dedikasi dan loyalitas serta tanggung jawab yang tinggi untuk menjalankan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing – masing di instansi naungannya sehingga out put nya Satuan Kerja Perangkat Dinas lebih solid untuk melayani masyarakat sebagai substansi pelayan bagi masyarakat melalui program pada setiap satker. Dan dengan berlakunya 6 hari kerja ini semoga pelayanan terhadap masyarakat lebih optimal.

 
Free Web Hosting | Top Web Host